JAWA TENGAH — Kurs rupiah dibuka di level Rp18.029 per dolar AS pada Selasa (20/10) pagi, menguat 17 poin atau 0,09 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penguatan terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi, dengan won Korea Selatan memimpin kenaikan 0,29 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah masih menghadapi ketidakpastian, meski ada sentimen positif dari kebijakan pemerintah mengeluarkan saham berkategori High Shareholder Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kebijakan HSC Jadi Penopang Rupiah
Menurut Lukman, langkah pemerintah mengeluarkan seluruh saham HSC dari perhitungan IHSG diharapkan dapat memberikan sentimen positif dan menopang pergerakan rupiah.
"Meski masih penuh ketidakpastian, langkah pemerintah, di antaranya mengeluarkan saham HSC dari IHSG, diharapkan bisa memberikan sentimen positif dan dukungan terhadap rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor domestik yang diperhitungkan pelaku pasar di tengah minimnya katalis positif dari dalam negeri.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Pergerakan rupiah terjadi di tengah variasi mata uang Asia terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang menguat, sementara yang lain bergerak terbatas.
- Won Korea Selatan: menguat 0,29 persen
- Yuan China: menguat 0,04 persen
- Peso Filipina: menguat 0,04 persen
- Ringgit Malaysia: menguat 0,02 persen
- Dolar Singapura: menguat 0,02 persen
- Yen Jepang: menguat 0,01 persen
- Dolar Hong Kong: datar
Euro dan Poundsterling Ikut Menguat
Di pasar mata uang negara maju, euro Eropa menguat 0,06 persen dan poundsterling Inggris naik 0,11 persen terhadap dolar AS. Franc Swiss terapresiasi 0,15 persen, sedangkan dolar Kanada menguat 0,13 persen.
Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,06 persen terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Tekanan Eksternal Masih Mengintai
Lukman menilai faktor eksternal masih berpotensi menekan rupiah, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang mendorong kenaikan harga minyak mentah.
"Faktor eksternal, seperti eskalasi di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan harga minyak mentah terus naik, akan kembali memberikan tekanan terhadap rupiah," katanya.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi perhatian karena berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan migas Indonesia dan menekan cadangan devisa.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level tersebut mencerminkan ruang penguatan terbatas di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas, rentang tersebut bisa menjadi acuan untuk memantau titik masuk pembelian dolar. Sementara investor pasar obligasi akan mencermati apakah penguatan rupiah berlanjut untuk menopang imbal hasil surat utang negara.