TEGAL — Pelepasan peserta ditandai pengibaran bendera start oleh Wakil Wali Kota yang akrab disapa Mba Iin itu. Sejumlah tokoh daerah turut mendampingi, di antaranya Plt Camat Tegal Selatan Edi Budi Wibowo, jajaran Forkopimcam, para lurah, pengurus NU, badan otonom, Banser, Ansor, serta santri dan pelajar.
Ratusan obor yang dibawa peserta menerangi jalanan kota sepanjang rute pawai. PCNU Kota Tegal menyebut jumlah kontingen tahun ini tersebar dari berbagai kecamatan di wilayah setempat.
Obor sebagai Simbol Penerang dan Pelestarian Budaya Lokal
Bagi Pemkot Tegal, pawai obor bukan sekadar prosesi seremonial tahunan. Momen itu diposisikan sebagai langkah merawat warisan budaya lokal yang sarat makna keagamaan.
"Pawai obor ini sebagai upaya kita menghidupkan kembali tradisi dan pelestarian budaya lokal. Secara simbolis, obor menghadirkan cahaya penerang untuk kota ini. Mari kita jadikan peringatan Hari Santri sebagai pemotivasi untuk mengabdi kepada bangsa, negara, dan Nahdlatul Ulama," ujar Tazkiyyatul Muthmainnah.
Mengapa Santri Dinilai Penting di Tengah Digitalisasi dan Hiburan Malam
Pemkot Tegal menilai peran santri dan lembaga pesantren krusial di tengah maraknya arus digitalisasi. Keberadaan tempat hiburan malam juga menjadi perhatian tersendiri dalam penguatan nilai keagamaan di kota itu.
Penguatan nilai-nilai keagamaan didorong sebagai penyeimbang kehidupan sosial masyarakat. Generasi muda menjadi sasaran utama agar tidak mudah terpengaruh pengaruh negatif lingkungan sekitar.
Sepeda Listrik untuk Anggota Banser Jadi Hadiah Utama
Rangkaian peringatan ditutup dengan tasyakuran bersama. Panitia menyiapkan pemotongan tumpeng, pembacaan tahlil, dan pengundian doorprize bagi peserta yang hadir.
Hadiah utama berupa satu unit sepeda listrik jatuh kepada Dianto, seorang anggota Banser. Pengundian berlangsung setelah peserta kembali dari rute pawai obor.