JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.948 per dolar AS pada perdagangan Selasa (13/10) pagi, turun 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak mentah dunia naik.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih akan tertekan terhadap dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah memanasnya geopolitik di Timur Tengah yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/10).
Rupiah Bergerak di Rentang Rp17.850-Rp18.000
Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak fluktuatif seiring sentimen global yang masih didominasi kekhawatiran geopolitik.
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko pelebaran defisit neraca perdagangan migas ketika harga minyak melonjak.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS terpantau bervariasi. Beberapa mata uang melemah, sementara sebagian lainnya justru menguat.
- Yuan China melemah 0,02 persen
- Peso Filipina terdepresiasi 0,11 persen
- Ringgit Malaysia turun 0,02 persen
- Won Korea Selatan terkoreksi 0,28 persen
- Yen Jepang menguat 0,18 persen
- Dolar Hong Kong naik 0,01 persen
- Dolar Singapura bergerak datar
Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di kawasan Asia dengan koreksi 0,28 persen. Sementara yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang menguat, naik 0,18 persen terhadap dolar AS.
Euro dan Poundsterling Justru Menguat
Mata uang negara maju juga bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Euro Eropa menguat 0,14 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, serta dolar Kanada dan franc Swiss masing-masing menguat 0,09 persen.
Sebaliknya, dolar Australia melemah 0,06 persen terhadap dolar AS. Penguatan euro dan poundsterling menunjukkan dolar AS tidak sepenuhnya perkasa di semua lini, meski tekanan terhadap mata uang Asia masih berlanjut.
Dampak bagi Pelaku Bisnis dan Investor
Pelemahan rupiah ke level Rp17.948 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar. Bagi importir, biaya pengadaan bahan baku dan barang modal berdenominasi dolar AS berpotensi meningkat, terutama jika pelemahan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Eksportir justru berpeluang menikmati margin lebih baik karena penerimaan dalam dolar AS setara rupiah yang lebih besar. Namun, sentimen geopolitik yang tidak pasti membuat pergerakan kurs sulit diprediksi dalam jangka pendek.
Investor di pasar obligasi dan saham juga mencermati pergerakan rupiah. Pelemahan mata uang yang berlanjut dapat memicu arus keluar dana asing dari aset berdenominasi rupiah, yang pada gilirannya menekan imbal hasil obligasi dan indeks harga saham gabungan.