JAWA TENGAH — Penjualan mobil hybrid di Indonesia mencapai 65.968 unit sepanjang Januari-September 2026, naik 41,9 persen dibanding periode sama tahun lalu meski insentif PPnBM DTP sudah berakhir. Angka ini melampaui total penjualan hybrid sepanjang 2025 yang hanya 65.943 unit, dengan Toyota Veloz Hybrid jadi penopang utama. Pertanyaannya kini: seberapa besar dampak insentif baru jika benar-benar cair?
Data wholesales Gaikindo menunjukkan lonjakan hybrid terjadi justru setelah pemerintah mencabut insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) 3 persen. Sepanjang 2025, saat insentif masih berlaku, penjualan hybrid hanya tumbuh 10 persen dari 59.903 unit ke 65.943 unit. Kini tanpa insentif, pertumbuhannya justru empat kali lebih kencang.
Angka ini muncul di tengah usulan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji agar hybrid, PHEV, dan REEV kembali mendapat insentif. Pertanyaannya, apakah insentif masih relevan untuk segmen yang sudah tumbuh sendiri?
Hybrid Kini Bukan Lagi Jembatan Menuju Listrik
Pada 2023, hybrid menguasai 75,4 persen pasar elektrifikasi dengan 52.568 unit, sementara BEV baru 17.058 unit. Posisinya sebagai kendaraan transisi menuju era listrik tampak kokoh saat itu.
Dua tahun berselang, peta berbalik. BEV menyalip hybrid pada 2025 dengan 103.931 unit, melesat 141 persen. Hybrid hanya mencapai 59.903 unit di tahun yang sama. PHEV ikut melonjak dari 136 unit ke 5.270 unit seiring banjir model asal China.
Sepanjang Januari-September 2026, BEV terjual 117.218 unit atau setara 17,26 persen dari total wholesales 679.020 unit. Pertumbuhannya sekitar 112 persen dibanding periode sama tahun lalu yang masih 55.225 unit.
PHEV Tumbuh Paling Kencang, BYD M6 DM Dominan
Segmen PHEV mencatat kenaikan tertinggi secara persentase: 209,5 persen dari 3.316 unit menjadi 10.264 unit. BYD M6 DM menyumbang 5.121 unit atau hampir separuh penjualan PHEV nasional.
Basisnya memang masih kecil dibanding hybrid dan BEV. Tapi arah pertumbuhannya menunjukkan konsumen mulai melirik opsi plug-in yang menggabungkan jarak tempuh listrik dengan mesin bensin sebagai cadangan.
Total Porsi Elektrifikasi Capai 28,5 Persen
Gabungan BEV, hybrid, dan PHEV sepanjang Januari-September 2026 mencapai 193.450 unit, atau 28,5 persen dari total pasar. Pada 2025, porsi elektrifikasi baru 21,79 persen dari 803.687 unit.
Artinya, hampir tiga dari sepuluh mobil yang dikirim pabrik ke diler tahun ini sudah berlabel elektrifikasi. Hybrid masih jadi kontributor terbesar kedua setelah BEV, dengan Veloz Hybrid sebagai model andalan.
Yang Perlu Diperhatikan
- Data yang tersedia hanya wholesales (pabrik ke diler), bukan penjualan ritel ke konsumen akhir — stok di diler bisa memengaruhi angka
- Klaim "Toyota Veloz Hybrid jadi penopang utama" disebut di ringkasan bahan, tapi tidak ada angka breakdown per model untuk hybrid selain PHEV BYD M6 DM
- Usulan insentif baru dari Menperin belum jelas skemanya — apakah menyasar hybrid, PHEV, REEV sekaligus atau salah satu prioritas
- Pertumbuhan hybrid tanpa insentif bisa jadi efek basis rendah dan antrean pengiriman tahun lalu, bukan murni permintaan organik
Verdict: Insentif Hybrid Perlu Dikaji Ulang
Angka 41,9 persen tanpa insentif jadi sinyal kuat bahwa hybrid sudah bisa berdiri sendiri di pasar Indonesia. Memberi insentif baru ke segmen yang tumbuh sehat berisiko menggeser fokus fiskal dari BEV yang masih butuh dorongan infrastruktur charging.
Di sisi lain, PHEV dan REEV masih di fase awal dengan basis kecil — di sinilah insentif mungkin lebih masuk akal jika tujuannya mempercepat adopsi teknologi yang lebih bersih. Pemerintah perlu memilah, bukan memberi insentif rata untuk semua label elektrifikasi.