Pencarian

MSCI Usul Turunkan RI ke Standalone, Analis Sebut Tak Realistis

Sabtu, 17 Oktober 2026 • 12:21:01 WIB
MSCI Usul Turunkan RI ke Standalone, Analis Sebut Tak Realistis
Analis Pasar Modal Hans Kwee menilai usulan MSCI menurunkan klasifikasi Indonesia ke Standalone Market tidak realistis.

JAWA TENGAH — Morgan Stanley Capital International membuka konsultasi publik soal rencana menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Analis Pasar Modal Hans Kwee menilai usulan itu tidak realistis dan tidak mencerminkan kondisi bursa saat ini, dengan keputusan akhir baru akan diambil pada akhir Juni 2027.

Konsultasi publik MSCI berlangsung hingga 30 April 2027, sementara keputusan final dijadwalkan pada akhir Juni 2027. Sepanjang periode tersebut, Hans menegaskan status Indonesia masih resmi berada di kategori Emerging Market.

"Sampai hari ini dan hingga pertengahan 2027 nanti, status Indonesia tetap resmi berada di Emerging Market," jelas Hans dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (17/10/2026).

Menurut Hans, kekhawatiran yang mendasari proposal penurunan kelas itu sangat tidak mendasar. Ia membandingkan respons MSCI dengan sikap FTSE Russell yang justru mempertahankan Indonesia di Secondary Emerging Market tanpa memasukkannya ke Watch List.

FTSE Justru Apresiasi Reformasi OJK dan SRO

FTSE Russell menilai langkah reformasi yang dijalankan OJK dan Self-Regulatory Organization berjalan positif. Transparansi data investor, ketentuan free float, dan pengawasan bursa yang makin solid menjadi tiga hal yang diapresiasi lembaga indeks global tersebut.

Hans menyebut kontras antara sikap FTSE dan MSCI ini sebagai sinyal bahwa pasar modal Indonesia tidak punya masalah struktural. "Oleh karena itu, pengumuman konsultasi dari MSCI ini terasa kontras dan tidak sejalan dengan apresiasi objektif yang telah diberikan oleh lembaga indeks global lainnya seperti FTSE," ungkapnya.

Selama enam bulan ke depan, ia melihat ada ruang untuk membuktikan secara empiris bahwa pasar modal Indonesia berfundamental kokoh dan tumbuh positif. Pembuktian itu dinilai penting agar posisi di Emerging Market tidak diganggu gugat.

Kriteria Kuantitatif MSCI Sudah Terlampaui

Dari sisi aturan MSCI sendiri, syarat minimal untuk bertahan di Emerging Market adalah memiliki setidaknya tiga saham yang memenuhi kriteria Standard Index. Indonesia saat ini memiliki sembilan saham yang melampaui standar tersebut.

"Sangat tidak layak dan sangat tidak realistis. Dari kriteria kuantitatif MSCI sendiri, syarat minimal untuk berada di Emerging Market adalah memiliki setidaknya 3 saham yang memenuhi kriteria Standard Index. Indonesia saat ini memiliki 9 saham yang jauh melampaui standar tersebut," tukas Hans.

Faktor makroekonomi memperkuat argumen itu. Indonesia disebut sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di kawasan dengan pertumbuhan di atas 5% dan inflasi yang terkendali.

Hans menilai menyamakan pasar modal Indonesia dengan kategori Standalone Market yang umumnya diisi pasar terisolasi atau berukuran sangat kecil hampir tidak mungkin terjadi. "Ukuran pasar, tingkat likuiditas harian, dan kedalaman industri keuangan kita jauh melampaui kriteria Standalone maupun Frontier Market," tambahnya.

Kapitalisasi IHSG US$ 572 Miliar, Peringkat Kedua ASEAN

Catatan Bursa Efek Indonesia per 15 Oktober menempatkan kapitalisasi pasar IHSG di level US$ 572 miliar. Di kawasan Asia Tenggara, bursa Indonesia berada di peringkat kedua, hanya kalah dari bursa saham Singapura.

Jumlah emiten juga menjadi penopang klasifikasi. BEI mencatat 1.017 perusahaan telah mencatatkan sahamnya, dengan 956 di antaranya merupakan emiten saham aktif yang wajib menyampaikan laporan keuangan berkala.

  • Kapitalisasi pasar IHSG: US$ 572 miliar per 15 Oktober
  • Peringkat ASEAN: kedua setelah Singapura
  • Total perusahaan tercatat: 1.017 entitas
  • Emiten saham aktif: 956 perusahaan
  • Saham lolos kriteria Standard Index MSCI: 9 saham (syarat minimal 3)

Sisanya mencakup Exchange Traded Fund, Real Estate Investment Trust (DIRE), dan waran terstruktur. Bagi investor, status Emerging Market penting karena menentukan bobot alokasi dana asing pada portofolio indeks global.

Penurunan ke Standalone berpotensi memicu outflow dari reksa dana dan ETF yang mengikuti indeks MSCI. Karena itu, pelaku pasar disarankan mencermati jadwal konsultasi hingga April 2027 sebelum mengambil posisi jangka panjang.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks