SALATIGA — Kedatangan Muhaimin ke Kampung Singkong bukan sekadar seremonial. Ia berkeliling melihat langsung produk olahan singkong yang dikembangkan warga, lalu menyerahkan penghargaan kepada dua perintis usaha yang dinilai berhasil membangun nilai tambah dari komoditas tersebut.
Argotelo dan D-9 disebut berkontribusi menjadikan Kampung Singkong sebagai sentra kuliner dan oleh-oleh khas Salatiga. Kawasan itu kini menaungi sejumlah UMKM yang mengolah singkong menjadi beragam produk, dari getuk ketek hingga cassava.
Dari Modal Rp 50.000 Jadi Usaha Olahan Singkong
Toni Anandya Wicaksono merintis Singkong Keju Argotelo pada 2016 dengan modal awal sekitar Rp 50.000. Kapasitas produksinya kala itu hanya 10 kilogram singkong per hari.
Seiring waktu, usaha itu berkembang bukan hanya sebagai penjual makanan olahan. Toni juga menghadirkan kegiatan edukasi bagi pengunjung dan pelajar yang ingin mengenal potensi singkong serta proses pengolahannya.
Bagi Toni, pengembangan usaha tidak semata mengejar keuntungan. Ia berharap bisnis yang dirintisnya memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar melalui pemanfaatan potensi lokal dan terbukanya peluang ekonomi.
Muhaimin: Singkong Kini Punya Nilai Ekonomi dan Identitas Daerah
Muhaimin mengaku bangga melihat perkembangan produk olahan singkong yang mampu tumbuh menjadi usaha bernilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas daerah.
"Saya bersyukur dan bangga dengan kemajuan produk olahan berbasis singkong ini. Semoga makin maju dan terus berkarya," kata Muhaimin.
Menurutnya, keberadaan Kampung Singkong memiliki potensi besar untuk mendorong produk lokal semakin dikenal luas. Pengembangan usaha berbasis potensi daerah juga dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Bukan Cuma Kuliner: Game Edukasi hingga Ojek Jeggboy
Perhatian Muhaimin tidak berhenti pada olahan singkong. Ia juga mengapresiasi karya Andi Taru yang mengembangkan game edukasi, film animasi, serta berbagai produk teknologi informasi.
Muhaimin turut menyoroti layanan ojek lokal Salatiga bernama Jeggboy yang digagas Sahonoe. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan potensi ekonomi masyarakat tidak terbatas pada sektor kuliner, tetapi juga mencakup teknologi dan jasa.
Ia menegaskan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan usaha masyarakat, termasuk pelaku industri kreatif.
Singkong sebagai Bahan Baku Produk Bernilai Tambah
Kampung Singkong Salatiga menjadi salah satu pusat kuliner dan oleh-oleh khas yang mengandalkan singkong sebagai bahan baku utama. Sejumlah UMKM di kawasan tersebut mengembangkan beragam produk olahan yang kini dikenal hingga berbagai daerah.
Keberadaan para pelaku usaha memperkuat posisi singkong tidak sekadar sebagai komoditas pertanian, tetapi juga bahan baku produk kuliner dengan nilai tambah ekonomi. Perkembangan Kampung Singkong menjadi gambaran bagaimana potensi pangan lokal dapat diangkat menjadi produk unggulan melalui kreativitas, ketekunan, dan inovasi pelaku UMKM.