JAWA TENGAH — Clarke Carlisle lebih dulu dikenal sebagai bek tengah yang tangguh di lapangan. Selama 19 musim berkarier sebagai pesepakbola profesional, ia memperkuat sejumlah klub Inggris seperti QPR, Leeds United, Watford, Luton Town, dan Burnley.
Di luar lapangan, Carlisle justru punya minat akademik yang tak biasa bagi pesepakbola. Ia pernah dinobatkan sebagai "Britain's Brainiest Footballer" pada 2002, mengalahkan Alan Brazil. Delapan tahun kemudian, ia kembali ke layar kaca lewat tiga episode di acara kuis legendaris Channel 4, Countdown.
Berawal dari Cedera Lutut Dua Tahun
Jalan Carlisle menuju studio Countdown tidak mulus. Ia pertama kali mendaftar saat masih menjalani pemulihan cedera lutut yang memaksanya absen selama dua tahun.
"Saat itu saya sedang dalam masa istirahat dua tahun karena cedera lutut," kata Carlisle kepada FourFourTwo. "Saya kembali ke kampus, mengambil beberapa A-level, lalu ada selebaran beredar di tempat latihan."
Dari selebaran itu, ia memutuskan ikut acara Britain's Brainiest Footballer dan keluar sebagai juara. Setelah pulih dan kembali bermain untuk QPR, Leeds, Watford, Luton, hingga Burnley, keinginan tampil di Countdown tak pernah hilang.
Gagal Audisi di King's Cross
Carlisle akhirnya mencoba peruntungan mengikuti audisi Countdown di King's Cross. Hasilnya jauh dari harapan.
"Saya ikut audisi di King's Cross dan gagal total. Suasananya sangat berbeda dari bayangan saya," ujarnya. "Rasanya seperti ruang kelas membosankan di sebuah kantor, seseorang di depan hanya membacakan huruf. Saya pikir, ini bukan Countdown! Mana jam besar itu?"
Kisah kegagalan itu ia ceritakan di TalkSport saat Burnley promosi. Kebetulan, ada produser bernama Damien Eadie yang juga terlibat di Countdown. Mendengar cerita Carlisle, Eadie langsung menawarinya kesempatan kedua.
Lompati Audisi Berkat Koneksi di TalkSport
Carlisle mengaku mendapat keistimewaan karena bisa melewati proses audisi dan langsung didaftarkan sebagai kontestan.
"Saya bilang, ya, sungguh serius! Jadi, bicara soal privilege, saya melewati audisi dan dia langsung memasukkan saya sebagai kontestan," kata Carlisle.
Baginya, tampil di Countdown adalah mimpi masa kecil yang terwujud. Ia mengingat betul kebiasaan pulang sekolah, duduk di pangkuan ayahnya, menonton Richard Whiteley dan Carol Vorderman, lalu berusaha membuat kata terpanjang dan menjawab soal hitungan dengan benar.
Teko Countdown Setara Trofi Liga Champions
Puncaknya terjadi ketika Carlisle memenangi satu episode Countdown. Hadiahnya sebuah teko yang selama ini jadi simbol khas acara tersebut.
"Ketika saya menang satu episode dan mendapat teko itu, rasanya seperti Liga Champions. Serius, itu kenangan yang sangat berharga," ujarnya.
Carlisle kini lebih sering muncul sebagai pundit di televisi. Namun cerita tentang teko Countdown tetap jadi salah satu momen paling ia banggakan — bukti bahwa pencapaian di luar lapangan bisa terasa sama besarnya dengan trofi sepakbola.