JAWA TENGAH — Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memutuskan mengalokasikan 59,23% dari total belanja daerah untuk infrastruktur pariwisata. Angka itu disampaikan seusai Sidang Paripurna DPRD Badung, Sabtu (12/9/2026), dan menjadi porsi terbesar dalam perubahan anggaran tahun ini.
Kebijakan tersebut merespons keluhan wisatawan yang berkunjung ke Badung, sekaligus membenahi fasilitas publik di kawasan yang selama ini jadi tulang punggung pariwisata Bali selatan.
Penataan Kuta Jadi Prioritas Pertama
Kuta dipilih sebagai wajah pembenahan. Pemerintah kabupaten mulai menata pedestrian dan menurunkan kabel-kabel utilitas yang selama ini membentang di atas jalan.
"Sekarang mulai kami lakukan penataan kawasan dengan penataan pedestrian dan kabel-kabel utilitas juga mulai diturunkan di Kuta. Langkah ini untuk membangun citra pariwisata agar Kuta yang menjadi ikon kita bisa bangkit kembali," ujar Adi Arnawa.
Penataan ini menyasar kawasan yang paling padat dikunjungi wisatawan asing maupun domestik. Bagi traveler yang biasa menginap di sekitar Jalan Legian atau Pantai Kuta, perubahan ini akan terasa langsung pada jalur pejalan kaki dan kebersihan visual kawasan.
Dari Mana Sumber Anggarannya
Lonjakan belanja infrastruktur ditopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang naik Rp 181,913 miliar menjadi Rp 9,731 triliun. Proyeksi pendapatan daerah dalam perubahan anggaran ikut naik 1,65% ke Rp 10,504 triliun.
Pendapatan transfer justru turun 1,84% menjadi Rp 787,981 miliar. Artinya, kekuatan fiskal Badung bertumpu pada sektor pariwisata dan pajak daerah, bukan dana pusat.
Jalan Antarkawasan Ikut Dibangun
Alokasi infrastruktur tidak hanya untuk kawasan wisata utama. Pemerintah kabupaten juga membangun jalan penunjang di seluruh wilayah Badung untuk memperlancar aksesibilitas dan pemerataan ekonomi antarkawasan.
"Kami berharap penataan jaringan jalan dilakukan bertahap untuk mendukung konektivitas antarwilayah. Pendapatan asli daerah juga diproyeksikan naik dari Rp 9,5 triliun menjadi Rp 9,7 triliun lebih," kata Adi Arnawa.
Bagi wisatawan yang berkendara sendiri menuju Ubud, Canggu, atau Nusa Dua, perbaikan jaringan jalan ini berpotensi memangkas waktu tempuh antartitik.
Realisasi Fisik Baru 30 Persen
Adi Arnawa meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) bergerak cepat. Realisasi anggaran fisik pada paruh pertama tahun ini baru mencapai 30%.
"Realisasi fisik yang baru 30% di semester pertama ini harus segera disikapi dan digenjot. Memasuki musim hujan nanti tentu bisa menjadi kendala capaian fisik di lapangan," ujarnya.
Musim hujan menjadi faktor penentu. Proyek jalan dan pedestrian yang belum rampung berisiko molor jika tidak dikebut sebelum cuaca berubah.
Dukungan Desa Adat Jadi Kunci
Keberhasilan penataan kawasan, kata Adi Arnawa, tidak cukup hanya dengan anggaran besar. Partisipasi masyarakat dan desa adat diperlukan untuk menjaga hasil pembenahan.
"Semua ini tidak akan cukup hanya dengan porsi anggaran dan komitmen kami tanpa dukungan seluruh pemangku kepentingan. Jika sinergitas berbasis kolaborasi dengan masyarakat Kuta dan desa adat sudah berjalan, saya optimis pembenahan ini tercapai," kata Adi Arnawa.
Bagi traveler yang merencanakan liburan ke Badung dalam beberapa bulan ke depan, perubahan pada fasilitas publik di Kuta dan sekitarnya layak dipantau. Informasi terkini soal progres proyek dapat dikonfirmasi via Dinas Pariwisata Badung atau kanal resmi Pemkab Badung.