Pertanyaan soal kepemilikan DJI bukan sekadar rasa ingin tahu. Ini menyangkut keamanan data, rantai pasok, dan masa depan industri drone yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar. Frank Wang, sang pendiri, memegang kendali lewat struktur saham yang rumit dan tidak sepenuhnya transparan.
Dari Garasi ke Pasar Global
Wang mendirikan DJI di usia 26 tahun. Lulusan Hong Kong University of Science and Technology ini memulai perusahaan di sebuah apartemen kontrakan di Shenzhen. Produk pertamanya bukan sukses besar, tapi pada 2013, DJI Phantom mengubah segalanya.
Phantom adalah drone siap pakai pertama yang bisa diterbangkan konsumen awam tanpa perlu merakit sendiri. Harganya sekitar $679 saat rilis—lebih murah dibanding drone militer atau hobiis kelas atas. Dalam dua tahun, DJI sudah menguasai 70% pasar drone konsumen dunia.
Siapa Pemilik Saham Terbesar?
Frank Wang disebut sebagai pemegang saham mayoritas, tapi angka pastinya tidak pernah diumumkan secara resmi. DJI adalah perusahaan privat, tidak tercatat di bursa efek mana pun. Beberapa laporan menyebut Wang memiliki sekitar 40-50% saham, sisanya dipegang oleh investor awal dan karyawan.
Dana ventura seperti Sequoia Capital China dan Accel Partners pernah berinvestasi, tapi porsinya kecil. Tidak ada satu pun investor asing yang punya kursi di dewan direksi. Ini yang membuat pemerintah AS waspada.
Kekhawatiran Intelijen Global
Sejak 2017, militer AS melarang penggunaan drone DJI di unit tempurnya karena alasan keamanan data. Meski DJI membantah tuduhan mengirim data ke China, larangan terus meluas. Kini, beberapa negara Eropa juga mulai membatasi penggunaan drone DJI di instansi pemerintah.
DJI membalas dengan meluncurkan mode "Local Data Mode" pada aplikasinya, yang memutus koneksi internet saat drone terbang. Langkah ini tidak sepenuhnya meredakan kekhawatiran, tapi setidaknya menunjukkan itikad baik dari perusahaan.
Dampak ke Pengguna Indonesia
Di Indonesia, DJI tetap menjadi pilihan utama videografer, fotografer, dan petani modern. Model terbaru seperti DJI Mini 4 Pro dan Mavic 3 masih laris di pasaran. Harga mulai dari Rp 12 juta untuk seri Mini, hingga Rp 40 juta untuk varian profesional.
Regulasi penerbangan drone di Indonesia sendiri diatur oleh Kementerian Perhubungan, tidak secara spesifik menargetkan DJI. Namun, jika tekanan geopolitik meningkat, bukan tidak mungkin kebijakan impor drone asal China akan diperketat.
Masa Depan Tanpa Nama Jelas
Frank Wang jarang muncul di publik. Wawancara terakhirnya dengan media asing dilakukan pada 2019. Sejak itu, ia lebih banyak mengawasi riset internal DJI yang kini merambah ke robotika, kamera aksi, dan sistem kendaraan otonom.
Tanpa transparansi kepemilikan, DJI akan terus menjadi teka-teki. Teknologinya diakui unggul, tapi asal-usul dan kendali perusahaannya tetap gelap. Bagi pengguna biasa, mungkin itu tidak masalah. Tapi bagi regulator dan militer di Barat, itu adalah bom waktu yang tidak bisa diabaikan.