JAWA TENGAH — Desa Wisata Jatirejo tengah menjadi sorotan dunia akademik. Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Indonesia (APSEII) bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang (UNNES) memilih desa di kaki Gunungpati ini sebagai lokasi Community Service Trip bertajuk "Understanding Halal Tourism through Local Heritage".
Bukan tanpa alasan. Desa ini menawarkan model wisata yang berbeda: pengunjung diajak menyusuri langsung sentra produksi warga, bukan sekadar menikmati pemandangan.
Empat Kampung Tematik yang Menjadi Andalan
Rombongan akademisi diajak berkeliling ke sejumlah ikon desa yang dikelola komunitas setempat. Ada empat kampung tematik yang menjadi tulang punggung destinasi ini.
- Peternakan Sapi — wisatawan dapat melihat langsung proses pemeliharaan dan produksi susu segar.
- Kampung Jahe Merah (Kajera) — area pengembangan tanaman herbal dan olahan minuman kesehatan.
- Kampung Cabe Rawit (Kambera) — sentra agrowisata tanaman cabai dengan sistem pengelolaan kolektif.
- Sentra UMKM Olahan Kolang-kaling — pusat produksi aneka camilan dan makanan olahan berbahan dasar buah aren.
Apresiasi Akademisi untuk Produk Lokal
Aas Nur Asiah, dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, mengaku terkesan dengan semangat warga dalam mengoptimalkan potensi desa. Ia menyoroti keberagaman produk yang sudah berjalan, mulai dari susu, kerupuk, hingga ragam olahan kolang-kaling.
"Ini menjadi bukti bahwa selama ada niat dan kemauan, masyarakat mampu meningkatkan kapasitas ekonominya melalui optimalisasi potensi lokal. Tentu, hal ini juga memerlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah agar potensi desa semakin berkembang dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata," tuturnya.
Evaluasi Pengelola untuk Kenyamanan Wisatawan
Ketua Desa Wisata Jatirejo, Deni Wikuncoro, menyambut positif masukan dari para akademisi. Ia mengakui masih ada sejumlah aspek yang perlu dibenahi, terutama di kawasan Kampung Olahan Kolang-kaling yang dinilai belum optimal.
"Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan apresiasi dari para peserta. Dari empat kampung tematik yang dikunjungi, kami menyadari masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan," ungkap Deni.
Pihak pengelola berkomitmen menjadikan setiap kunjungan sebagai bahan evaluasi berkala. Targetnya sederhana: menghadirkan pengalaman wisata edukatif yang semakin nyaman bagi pengunjung.
Menuju Destinasi Wisata Edukasi Halal
Ketua Panitia kegiatan, Dr. Prabowo Yudo Jayanto, menilai Jatirejo punya peluang besar berkembang sebagai destinasi wisata berbasis edukasi. Ia mendorong pengelola untuk memperkuat penataan kawasan dan fasilitas pendukung.
Menurutnya, wisatawan tidak hanya perlu diajak menikmati destinasi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat aktivitas dan proses produksi yang dilakukan masyarakat. Dengan begitu, kunjungan wisata memberikan dampak ganda: pengalaman baru bagi pengunjung dan promosi produk lokal bagi warga.
"Kami juga berkomitmen untuk mengenalkan Desa Wisata Jatirejo kepada rekan-rekan dosen di berbagai wilayah agar semakin banyak yang tertarik berkunjung," ujarnya.
Bagi traveler yang mencari pengalaman wisata berbeda di Semarang, Desa Wisata Jatirejo menawarkan alternatif kunjungan yang kaya wawasan. Waktu ideal untuk mengeksplorasi seluruh kampung tematik adalah setengah hari, dengan rekomendasi datang pagi hari agar bisa mengikuti proses produksi secara lengkap. Informasi paket kunjungan terkini dapat dikonfirmasi langsung melalui pengelola desa wisata setempat.