Pencarian

Rupiah Dibuka Melemah 0,15% ke Rp17.539/US$, Minyak Mentah Tahan Laju

Kamis, 10 September 2026 • 09:48:02 WIB
Rupiah Dibuka Melemah 0,15% ke Rp17.539/US$, Minyak Mentah Tahan Laju
Rupiah dibuka melemah 0,15% ke Rp17.539/US$ saat sebagian mata uang Asia menguat.

JAWA TENGAH — Pelemahan rupiah hari ini terjadi saat sebagian besar mata uang Asia berada di zona hijau. Won Korea Selatan memimpin penguatan 0,21%, disusul yen Jepang 0,12%. Sementara dolar Singapura, yuan China, dan yuan offshore menguat lebih terbatas.

Peso Filipina berada di zona merah bersama ringgit Malaysia dan rupiah. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih bersifat spesifik dibanding regional.

Minyak Mentah US$101,2/Barel Jadi Penahan Utama

Harga minyak mentah yang bertahan di US$101,2/barel menjadi faktor utama yang menahan laju rupiah. Tingginya harga komoditas energi ini biasanya berdampak pada kenaikan biaya impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan negara pengimpor seperti Indonesia.

Di sisi lain, aksi beli investor di pasar surat utang domestik menopang laju rupiah. Minat investor terhadap obligasi Indonesia masih terjaga meski ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus membayangi pasar obligasi global.

Selisih Yield INDON vs US Treasury Jadi Sorotan

Yield obligasi AS, US Treasury, kembali naik 5,4 basis poin ke 4,84%. Sementara yield INDON 10 tahun berada di 5,76% dan INDOGB 10 tahun di 7,08%.

Selisih yield antara INDOGB 10 tahun dan US Treasury masih cukup lebar. Namun investor yang mengempit obligasi Indonesia harus menanggung risiko kurs, terutama jika rupiah terus tertekan terhadap dolar AS.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membuat selisih yield berpotensi semakin tipis antara INDON dan US Treasury. Kondisi ini bisa mengurangi daya tarik obligasi Indonesia bagi investor asing yang mencari imbal hasil tinggi.

Tekanan Eksternal Masih Dominan

Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan dominasi faktor eksternal. Harga minyak mentah yang tinggi dan ekspektasi kebijakan The Fed menjadi dua variabel utama yang menentukan arah kurs jangka pendek.

Investor pasar obligasi perlu mencermati perkembangan yield US Treasury dan harga minyak mentah dalam beberapa hari ke depan. Kedua faktor ini akan menentukan apakah rupiah mampu mempertahankan level di bawah Rp17.600/US$ atau terus melemah.

Investasi mengandung risiko.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks