JAWA TENGAH — Serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ancaman serius bagi perusahaan. Pelaku kejahatan menggunakan AI untuk mengumpulkan data pribadi korban—mulai dari nama rekan kerja, proyek yang sedang berjalan, hingga jadwal perjalanan—lalu merangkai email phishing yang tampak sangat autentik. Kondisi ini mendorong Cy Khormaee dan Ryan Luo, dua mantan eksekutif keamanan Google yang pernah mengembangkan teknologi safe browsing dan reCAPTCHA, untuk mendirikan AegisAI pada tahun lalu.
Mengapa Sistem Keamanan Lama Kalah Cepat
Khormaee menjelaskan bahwa sistem keamanan email tradisional yang menggunakan logika "jika-maka" (if-then) sudah tidak memadai. “Serangan bertenaga AI kini berhasil melewati kontrol yang ada lebih dari separuh waktu. Artinya, serangan itu hampir dua kali lebih efektif dibanding sebelumnya,” ujar Khormaee kepada TechCrunch. Sistem lama dinilai terlalu lambat dan terbatas dalam menangkap pola serangan yang terus berubah.
Sebagai solusinya, AegisAI mengembangkan agen AI yang dirancang untuk menganalisis setiap pesan secara mendalam, mirip dengan cara seorang analis keamanan manusia bekerja. Agen ini tidak hanya membaca konten, tetapi juga memperhatikan keanehan kecil yang tidak akan tertangkap oleh daftar periksa standar. Contohnya, agen ini bisa mendeteksi lampiran PDF berbahaya yang tampak normal, termasuk file yang dilindungi kata sandi atau memiliki CAPTCHA—teknik umum yang digunakan untuk mengelabui filter spam biasa.
Pendanaan dan Adopsi Pasar
Kurang dari setahun setelah diluncurkan, teknologi AegisAI telah diadopsi oleh puluhan pelanggan. Beberapa di antaranya adalah perusahaan pembayaran kripto Mesh, startup AI LangChain, dan platform kepatuhan privasi Lokker. Permintaan pasar yang tinggi ini mendorong AegisAI mengamankan pendanaan Seri A senilai 36 juta dolar AS (sekitar Rp594 miliar) yang dipimpin oleh Battery Ventures, dengan partisipasi dari investor lama Accel dan Foundation Capital. Total pendanaan yang terkumpul kini mencapai 49 juta dolar AS (sekitar Rp808 miliar).
Dharmesh Thakker, general partner di Battery Ventures, melihat peningkatan serangan email sebagai peluang investasi. “Musuh menyerang kita melalui email menggunakan AI dengan kecepatan yang jauh melebihi kemampuan kita untuk bertahan. Melawan ancaman ini akan menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan,” kata Thakker. Menurutnya, AegisAI memiliki peluang terbaik untuk menjadi perusahaan pencegahan peretasan terdepan karena dipimpin oleh para ahli yang pernah mengamankan Gmail, sistem email terpopuler di dunia.
Kompetisi di Lanskap Keamanan Email
AegisAI tidak sendirian dalam perlombaan ini. Startup lain seperti Ocean yang didukung Lightspeed juga menggunakan AI untuk menganalisis konteks setiap email masuk guna mendeteksi penipuan dan percobaan impersonasi. Mereka semua berusaha menggantikan pemain lama seperti Proofpoint dan Mimecast, serta pendatang baru seperti Abnormal Security.
Meski memulai dari email, AegisAI memiliki ambisi yang lebih besar. Perusahaan berencana memperluas jangkauannya ke area keamanan data lainnya. “Ide inti untuk membangun agen yang sangat canggih dan khusus yang bisa melakukan investigasi adalah kunci untuk menentukan siapa yang akan menjadi perusahaan keamanan dominan berikutnya,” pungkas Khormaee.