SEMARANG — Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menilai kolaborasi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha sudah menjadi keharusan di tengah kompleksitas pembangunan saat ini. Menurutnya, pendekatan ini adalah kunci utama agar tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses pembangunan di Jawa Tengah.
Pemerintah, Akademisi, dan Pengusaha Punya Peran Berbeda
Heri merinci peran masing-masing pihak dalam skema triple helix. Pemerintah, kata dia, bertugas menyediakan kebijakan dan anggaran. Akademisi diharapkan menghasilkan inovasi serta riset berbasis data yang bisa langsung diimplementasikan.
"Akademisi jangan hanya menghasilkan jurnal, tapi riset yang bisa langsung diimplementasikan oleh pemerintah dan dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk menciptakan lapangan kerja baru," ujar Heri.
Sementara itu, pelaku usaha tidak hanya diminta mengejar profit. Mereka juga harus berkontribusi melalui tanggung jawab sosial perusahaan yang lebih luas, termasuk merekrut tenaga kerja dari kelompok disabilitas dan masyarakat marginal.
Ketimpangan di Provinsi Berpenduduk Terbesar Kedua
Heri menyoroti bahwa Jawa Tengah, sebagai provinsi dengan populasi terbesar kedua di Indonesia, masih menghadapi tantangan ketimpangan. Kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, masyarakat pedesaan, perempuan kepala keluarga, dan generasi muda di daerah tertinggal dinilai paling sering terpinggirkan.
"Pendidikan, kesehatan, ekonomi dan akses teknologi harus berjalan beriringan sehingga setiap warga Jateng merasakan manfaatnya," tegas Heri.
Fokus pada SDM Inklusif dan Pendidikan Vokasi
Politisi itu mendorong agar kerja sama triple helix difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia yang inklusif. Beberapa program yang disarankan meliputi pendidikan vokasi yang sesuai kebutuhan industri dan pemberdayaan berbasis komunitas.
Heri optimistis kolaborasi yang solid dapat menjadikan Jawa Tengah sebagai contoh provinsi yang sukses mewujudkan pembangunan berkelanjutan. "Mari kita bangun Jawa Tengah yang adil, maju dan berkelanjutan. No One Left Behind bukan hanya slogan, tapi harus menjadi DNA pembangunan kita ke depan," pungkasnya.