BOYOLALI — Gubernur Jawa Tengah Luthfi menyisipkan persoalan penanganan serangan kawanan liar dalam forum Rembug Pembangunan yang digelar di Boyolali. Forum ini merupakan bagian dari skema baru pemerintah provinsi untuk merumuskan pembangunan secara lebih tematik dan kolaboratif.
Dalam kesempatan itu, Luthfi menekankan bahwa persoalan kawanan liar, yang kerap meresahkan warga di beberapa daerah, tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia mendorong agar penanganannya masuk dalam kerangka perencanaan pembangunan daerah yang terintegrasi.
Mengapa Isu Kawanan Liar Masuk Agenda Pembangunan?
Menurut Gubernur, gangguan kawanan liar seperti monyet, babi hutan, atau ular yang masuk ke pemukiman seringkali berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan keselamatan warga. Ia menilai, selama ini penanganan masih bersifat reaktif dan belum menjadi prioritas dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) di tingkat desa maupun kecamatan.
"Ini bukan sekadar masalah petugas, tapi soal bagaimana kita merencanakan kawasan. Kalau ada konflik antara manusia dan satwa liar, itu artinya ada yang salah dengan tata ruang atau pengelolaan lingkungan kita," ujar Luthfi dalam forum tersebut.
Skema Baru: Rembug Pembangunan Tematik
Rembug Pembangunan di Boyolali sendiri sengaja digelar secara bergilir di setiap eks karesidenan. Tujuannya, memastikan setiap wilayah dengan karakteristik masalahnya masing-masing mendapat perhatian yang proporsional. Luthfi ingin agar setiap forum tidak hanya membahas infrastruktur fisik, tetapi juga persoalan sosial-lingkungan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah provinsi mulai melihat persoalan keseharian warga seperti konflik dengan satwa liar sebagai bagian dari indikator keberhasilan pembangunan. Belum ada keputusan teknis lebih lanjut dari forum tersebut, namun Gubernur meminta dinas terkait untuk mulai memetakan titik-titik rawan serangan kawanan liar di setiap kabupaten.