JAWA TENGAH — Kelangkaan iPhone Duo di awal penjualan bukan cuma soal stok terbatas. Laporan Mark Gurman dari Bloomberg menyebut Apple meluncurkan ponsel lipat USD 2.000 itu lebih cepat dari rencana semula, dengan prioritas distribusi yang justru memperparah masalah. Pembeli yang sabar menunggu kiriman resmi punya alasan kuat untuk tidak menyentuh unit dari calo.
Rencana awal Apple ternyata berbeda jauh dari yang terjadi di lapangan. Menurut laporan Gurman, Apple semula berniat menunda peluncuran iPhone Duo hingga November, dan bahkan saat itu pun cakupannya hanya terbatas untuk Amerika Serikat dan China. Wilayah lain baru kebagian setelahnya, kemungkinan besar baru masuk 2027. Peluncuran yang dimajukan membuat kesiapan produksi dan distribusi Apple tidak sepadan dengan permintaan yang datang.
Pernyataan resmi Apple sendiri menyebut antusiasme pembeli sebagai sesuatu yang "nothing short of extraordinary". Angka permintaan memang tinggi, tapi masalahnya bukan semata soal itu.
Kesalahan Distribusi: 80 Persen Stok Dilempar ke Toko Fisik
Apple memutuskan memprioritaskan penjualan langsung di Apple Store dibanding kanal online. Sekitar 80 persen stok iPhone Duo dialokasikan untuk pembelian walk-in pada akhir pekan pertama penjualan.
Keputusan itu menjelaskan kenapa pengiriman hari peluncuran dan pickup di gerai ludes dalam hitungan menit setelah pre-order dibuka. Tiap toko hanya menerima 50 sampai 250 unit, tergantung ukuran dan lokasi gerai. Varian dengan kapasitas penyimpanan besar dan warna biru tercatat paling minim stoknya.
Konsekuensinya jelas: pembeli yang mengandalkan kanal online nyaris tidak punya peluang. Untuk mendapat unit di gerai, calon pembeli praktis harus menginap atau datang jauh sebelum toko buka.
Calo dan Bot Memperparah Kelangkaan
Masalah lama soal calo kembali muncul. Bot dipakai memantau situs Apple dan menyerobot stok yang tersedia, termasuk mengunci unit untuk pickup di toko. Praktik ini sudah menjadi wabah di peluncuran produk teknologi selama beberapa tahun terakhir, dan Apple semestinya sudah mengantisipasi polanya.
Ada dugaan bahwa fokus penjualan offline sebenarnya dimaksudkan untuk menekan penggunaan bot. Strategi itu gagal karena dua hal: Apple tidak memberi penjelasan apa pun ke publik, dan bot tetap bisa memesan unit untuk diambil di gerai secara massal.
Transparansi Minim Bikin Pembeli Makin Frustrasi
Ketiadaan informasi resmi soal jadwal restock membuat pembeli bergerak buta. Apple, operator seluler, dan peritel besar memang masih menyalurkan unit, tapi tanpa estimasi waktu yang jelas, pembeli sulit merencanakan pembelian.
Pilihan paling realistis saat ini adalah bersabar menunggu jalur resmi. Berburu unit pickup di gerai masih mungkin, tapi peluangnya kecil karena harus bersaing dengan bot yang bekerja lebih cepat dari manusia.
Yang Perlu Diperhatikan
- Harga jual kembali membengkak: membeli dari calo berarti membayar jauh di atas harga resmi dan ikut melanggengkan praktik tersebut.
- Belum ada kejelasan ketersediaan global: wilayah di luar AS dan China harus menunggu lebih lama, kemungkinan hingga 2027.
- Varian tertentu nyaris mustahil didapat: kapasitas penyimpanan tertinggi dan warna biru jadi yang paling langka.
- Kanal online tidak bisa diandalkan: dengan 80 persen stok diarahkan ke toko fisik, pembelian lewat situs resmi praktis hanya soal keberuntungan.
Verdict: Tunggu Jalur Resmi, Jangan Tergoda Calo
iPhone Duo adalah produk yang permintaannya nyata, tapi eksekusi peluncurannya berantakan. Apple memajukan jadwal tanpa menyiapkan pasokan yang memadai, lalu menumpuk stok di toko fisik sambil membiarkan bot calo berkeliaran tanpa pengawasan berarti.
Bagi yang memang butuh ponsel lipat Apple, menunggu restock resmi dari Apple, operator, atau peritel besar adalah langkah paling masuk akal. Membeli dari calo dengan harga menggelembung hanya memperpanjang siklus kelangkaan ini. Untuk pembeli di Indonesia, belum ada indikasi kapan unit resmi akan masuk, jadi bersiap menunggu lebih lama adalah ekspektasi yang paling realistis.