Pencarian

Banjir Lahar Dingin Semeru Dipicu Curah Hujan Ekstrem, Bukan Erupsi Baru

Senin, 02 November 2026 • 17:19:31 WIB
Banjir Lahar Dingin Semeru Dipicu Curah Hujan Ekstrem, Bukan Erupsi Baru
Banjir lahar dingin di alur sungai berhulu Gunung Semeru dipicu curah hujan ekstrem pada 1–2 November 2026.

JAWA TENGAH — Banjir lahar dingin yang melanda sejumlah alur sungai berhulu Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, dipicu curah hujan harian sangat tinggi pada 1–2 November 2026, bukan erupsi baru. Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menyebut hujan lebat mengerosi material vulkanik yang sudah terendapkan di lereng dan alur sungai. Luapan Sungai Glidik dan jebolnya tanggul membuat lebih dari seribu jiwa terdampak di dua kecamatan.

Di Curah Kobokan, aliran lahar membawa material vulkanik berupa pasir, kerikil, hingga bongkah batu berukuran besar. Aliran itu juga dilaporkan menjebol tanggul dan meluap ke arah permukiman di wilayah Tempursari.

Mengapa Banjir Lahar Tak Perlu Didahului Erupsi

Daryono menegaskan banjir lahar hujan tidak selalu berkaitan dengan aktivitas erupsi terbaru. Material vulkanik yang telah lama terendapkan di lereng dan alur sungai bisa terangkut kembali saat hujan deras mengguyur.

"Perlu dipahami bahwa banjir lahar hujan tidak harus didahului erupsi baru, karena hujan lebat dapat mengerosi dan mengangkut material vulkanik yang telah terendapkan di lereng maupun alur sungai," ujar Daryono dalam keterangannya, Senin (2/11).

Dari sisi hidrologi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menyebut luapan Sungai Glidik turut memperparah kondisi. Debit sungai yang berhulu di kawasan Semeru itu meningkat signifikan setelah hujan lebat berjam-jam.

Jembatan Malang–Lumajang Putus, Ribuan Warga Terdampak

Dampak paling terasa terjadi di Kecamatan Tempursari. Jembatan penghubung Malang dan Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat peningkatan debit Sungai Glidik.

"Peningkatan debit Sungai Glidik menyebabkan jembatan penghubung Malang dan Lumajang tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat," kata Satriyo.

Genangan juga meluas ke sejumlah desa di Tempursari akibat luapan Sungai Rawaan dan Sungai Dol. Tanggul jebol tercatat di kawasan Wareng, Dusun Pasirejo. BPBD Jawa Timur mencatat lebih dari seribu jiwa terdampak langsung di dua kecamatan berbeda.

Mitigasi Sebelum Bencana Jadi Kunci

Daryono menilai kejadian ini memperlihatkan pentingnya mitigasi yang dijalankan sebelum bencana datang, bukan setelah kerusakan terjadi. Penguatan sistem peringatan dini, pemeliharaan sabo dam dan tanggul, penataan ruang berbasis risiko, serta kesiapan jalur evakuasi disebut sebagai langkah yang menentukan.

"Di tengah potensi hujan ekstrem yang masih dapat terjadi, kewaspadaan harus terus dijaga. Bencana alam tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko, korban jiwa, dan kerugiannya dapat ditekan melalui mitigasi dan kesiapsiagaan yang baik," tuturnya.

Bagi warga di sekitar alur sungai berhulu Semeru, imbauan itu praktis: pantau informasi cuaca dan peringatan dini, kenali jalur evakuasi terdekat, dan segera menjauh dari bantaran saat hujan lebat berlangsung lama. Potensi hujan ekstrem diperkirakan masih berlanjut, sehingga kewaspadaan belum bisa diturunkan.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks