Pencarian

Mitsubishi Fuso Sebut Truk Listrik eCanter Masih Hadapi Tiga Kendala di Indonesia

Kamis, 05 November 2026 • 10:04:31 WIB
Mitsubishi Fuso Sebut Truk Listrik eCanter Masih Hadapi Tiga Kendala di Indonesia
Truk listrik Mitsubishi Fuso eCanter dipamerkan dalam sebuah pameran kendaraan komersial.

JAWA TENGAH — PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors menyatakan adopsi truk listrik Mitsubishi Fuso eCanter di Indonesia masih terhambat jarak tempuh baterai, ketersediaan charging station, dan kalkulasi benefit pelaku usaha. Sejak penjualan dimulai pada 2024, penetrasi eCanter baru menyasar korporasi global yang punya komitmen ketat pengurangan emisi karbon.

Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) Aji Jaya menyampaikan bahwa truk listrik di Tanah Air masih berada dalam fase evolusi. KTB memulai penjualan eCanter pada 2024 sebagai pionir di segmen kendaraan komersial bertenaga baterai, dan hingga kini sejumlah kesiapan masih harus dibenahi di sisi produsen maupun konsumen.

Jarak Tempuh dan Charging Station Jadi Penghambat Utama

Menurut Aji, tiga kendala teknis paling nyata adalah keterbatasan jarak tempuh akibat kapasitas baterai, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, serta kalkulasi manfaat bagi pelaku usaha. Persoalan itu muncul di lapangan, bukan sekadar proyeksi di atas kertas.

"Ya, sampai sekarang kan memang apa ya, kendaraan truk listrik ini masih berevolusi. Artinya kita dari 2024 itu sebagai pionir baru memulai penjualan truk berbasis listrik. Tentunya banyak hal-hal yang masih harus disiapkan oleh kami dan juga oleh konsumen," ujar Aji di Jakarta, Rabu (4/11).

Hingga kini, sambung Aji, penetrasi eCanter masih menyasar korporasi skala global yang memiliki komitmen ketat terhadap pengurangan emisi karbon. KTB membuka ruang kolaborasi dan uji coba berkelanjutan sambil menunggu kesiapan infrastruktur serta regulasi pendukung dari pemerintah.

Mitra Logistik B-Log Soroti Waktu Pengisian Daya

Dari sisi pengguna, PT Trimitra Trans Persada (B-Log) menilai pemakaian truk listrik secara masif untuk armada harian butuh penyesuaian operasional yang tidak sedikit. Chief Innovation Officer B-Log Gerry Ardian menyebut waktu pengisian daya dan intensitas operasional 24 jam sebagai pertimbangan utama.

B-Log sebelumnya menjajal sejumlah produsen, termasuk Fuso, di fasilitas mereka. Dalam satu distribution center, B-Log bisa mengirim hingga 100 kendaraan per pull. Dengan operasional nonstop dan waktu pengisian yang masih tergolong lama, mengatur pengisian 100 truk menjadi pekerjaan rumah tersendiri.

"Kita sudah kaji beberapa produsen, salah satunya juga dengan Fuso sudah pernah trial di tempat kita. Memang saat ini salah satu handicap yang tadi Pak Aji sudah bilang mengenai jarak tempuh. Yang kedua pasti charging time. Di salah satu DC kita saja kita punya pengiriman satu pull itu sampai 100 kendaraan. Nah, ini dengan kita jalan 24 jam dan charging time-nya masih cukup lama, buat ngatur ngecas 100 truk aja itu jadi PR sendiri tuh buat kita," ungkap Gerry.

Menunggu Regulasi dan Perbaikan Teknologi Baterai

Pabrikan disebut akan terus menyempurnakan teknologi baterai agar jarak tempuh lebih panjang dan waktu pengisian lebih efisien. KTB memastikan akan memantau perkembangan regulasi pemerintah serta kesiapan pasar sebelum memperluas penetrasi eCanter.

Bagi pelaku logistik, keputusan beralih ke truk listrik saat ini bergantung pada tiga hal: rute harian yang muat dalam jangkauan baterai, ketersediaan pengisi daya di pool sendiri, dan perhitungan biaya operasional jangka panjang. Selama ketiganya belum klop, armada diesel diperkirakan masih jadi tulang punggung pengiriman harian.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks