JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis ke level 18.133 per dolar AS pada Jumat (30/10) pagi, hanya naik 4 poin atau 0,02% dari penutupan Kamis (29/10). Penguatan terbatas terjadi meski harga minyak dunia kembali naik dan arus jual bersih investor asing di pasar domestik masih menekan mata uang Garuda.
Data spot Bloomberg menunjukkan rupiah masih tertahan di atas level 18.000. Pada pukul 09.13 WIB, kurs rupiah tercatat di 18.122 per dolar AS, menguat 11 poin atau 0,06% dibanding pembukaan pagi.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai tekanan eksternal dan domestik masih membatasi ruang penguatan rupiah. Harga minyak jenis WTI disebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan, faktor yang biasanya memberi tekanan pada mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
"Sentimen risk off dan net sell asing di pasar domestik juga masih membebani rupiah," kata Lukman, saat dihubungi, Jumat (30/10).
Pergerakan Rupiah Hari Ini Diproyeksi Fluktuatif di 18.110-18.200
Lukman memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada rentang 18.110 hingga 18.200 per dolar AS sepanjang hari. Proyeksi itu mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan global maupun domestik.
Tekanan jual bersih asing di pasar saham dan obligasi menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Arus modal keluar memaksa bank sentral menjaga likuiditas valas agar kurs tidak bergerak terlalu liar.
Isu Downgrade MSCI Masih Bayangi Persepsi Pasar
Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebut rupiah berpotensi merosot hingga 22.000 per dolar AS. Proyeksi itu muncul akibat gejolak setelah MSCI membuka opsi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Wacana tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama investor asing yang selama ini menempatkan dana di saham dan obligasi Indonesia. Penurunan status pasar berpotensi mengurangi aliran dana asing dan memperlebar defisit neraca pembayaran.
BI Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Relatif Kuat
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti merespons pernyataan Hashim dengan menegaskan bank sentral terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang relatif baik dibandingkan negara peer group.
"Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke, dibandingkan dengan peer group kita," kata Destry kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/10).
Destry menjelaskan pergerakan rupiah tidak hanya bergantung pada supply dan demand, tetapi juga persepsi pasar terhadap kebijakan global. Salah satu contohnya keputusan bank sentral AS, The Fed, yang tidak menaikkan suku bunga dan dampaknya langsung positif bagi penguatan kurs di pasar global.
"Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, Amerika gak naikkan suku bunga The Fed, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," katanya.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Usaha
Bagi investor, rentang pergerakan 18.110-18.200 menjadi acuan penting untuk mengukur risiko kurs dalam sepekan ke depan. Posisi rupiah yang masih di atas 18.000 membuat obligasi berdenominasi dolar AS dan instrumen lindung nilai tetap menarik sebagai pelindung portofolio.
Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor perlu mengantisipasi fluktuasi kurs dengan kontrak forward atau natural hedging. Sementara eksportir berpeluang memanfaatkan level kurs saat ini untuk mengunci harga jual valas.
Destry menegaskan komitmen BI menjaga stabilitas agar terciptanya iklim ekonomi yang kondusif. "Untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan," kata dia.