Pencarian

Pabrik BYD Subang Jadi Magnet Pemasok, SSIA Targetkan Marketing Sales 60 Hektare

Senin, 07 September 2026 • 18:03:31 WIB
Pabrik BYD Subang Jadi Magnet Pemasok, SSIA Targetkan Marketing Sales 60 Hektare
Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja menyampaikan paparan dalam Public Expose di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

JAWA TENGAH — Manajemen SSIA meyakini kehadiran pabrik BYD di Indonesia akan mendorong perusahaan pemasok komponen mengikuti jejak pabrikan asal China tersebut. Aliran investasi itu diharapkan memperkuat ekosistem kendaraan listrik di kawasan industri yang mereka kelola.

Harapan itu disampaikan Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja dalam Public Expose yang digelar bersamaan dengan perayaan HUT ke-49 Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (3/9/2026).

Transfer Teknologi Jadi Incaran Utama

Johannes menilai masuknya BYD bukan sekadar menambah kapasitas produksi mobil listrik nasional. SSIA melihat peluang transfer teknologi dari produsen otomotif asal China itu kepada pelaku industri lokal.

"Menurut kita sangat positif dengan adanya pabrik BYD di Indonesia dan kita harapkan bisa terjadi juga transfer teknologi daripada BYD kepada pengusaha-pengusaha lokal di Indonesia," kata Johannes.

Rantai Pasok Ditargetkan Mengisi Subang Smartpolitan

SSIA tidak berhenti pada transfer teknologi. Perusahaan berharap pemasok tier-1 maupun tier-2 BYD bersedia membangun fasilitas di Subang Smartpolitan sehingga terbentuk klaster industri kendaraan listrik yang utuh.

"Kita harapkan juga nanti ke depannya ada supply chain daripada BYD sendiri, kita harapkan bisa masuk kepada Subang sehingga ekosistem yang terbentuk di Subang Smartpolitan dengan adanya BYD ini untuk kendaraan listrik bisa terbentuk dengan baik," ujarnya.

Saat ini basis tenant Subang Smartpolitan sudah mencakup sektor otomotif, elektronik, consumer goods, serta garment dan tekstil. Masuknya pemasok komponen BYD berpotensi memperluas keragaman sektor tersebut sekaligus menciptakan keterkaitan antarindustri.

Investasi China Diprediksi Stabil Hingga 2027

Optimisme SSIA terhadap pengembangan kawasan industri ini juga bertumpu pada proyeksi arus modal asing. Manajemen menilai investasi dari China ke Indonesia masih akan mengalir deras hingga 2027.

"Kita masih lihatnya bakal banyak investasi masih cukup stabil datangnya dari China," kata Johannes.

Kendati demikian, perseroan tetap mencermati faktor makroekonomi seperti pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah yang bisa memengaruhi keputusan investasi para calon tenant.

Target Marketing Sales 60 Hektare pada 2027

SSIA memasang target penjualan lahan atau marketing sales sekitar 60 hektare pada 2027. Angka ini mencerminkan keyakinan perseroan bahwa prospek bisnis kawasan industri masih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik.

Pengembangan Subang Smartpolitan sendiri tidak hanya diarahkan sebagai lokasi manufaktur. SSIA ingin kawasan itu tumbuh menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi, inovasi, serta penelitian dan pengembangan.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks