WONOGIRI — Panggung utama Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro berubah menjadi area peragaan busana daur ulang saat barisan SMP Negeri 2 Giritontro melintas. Ratusan pelajar tampil percaya diri mengenakan kostum bernuansa batik yang seluruhnya dibangun dari limbah plastik dan kertas bekas, Selasa (18/8/2026).
Karya yang dibuat secara mandiri oleh para siswa itu langsung mengundang reaksi spontan dari penonton. Sejumlah warga yang berjajar di sepanjang rute mengarahkan ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut, bahkan tak sedikit yang meminta foto bersama para peserta karnaval.
Kostum dari Limbah yang Jadi Primadona
Alih-alih membeli busana mahal, para siswa justru mengolah material sisa yang nyaris tak bernilai menjadi busana batik dengan siluet mencolok. Proses kreatif ini menjadi bukti bahwa barang bekas bisa memiliki kehidupan baru di tangan yang tepat.
Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar pesta budaya, melainkan ruang belajar di luar kelas. "Karnaval kali ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga bagaimana mereka mampu memanfaatkan barang bekas menjadi sebuah karya yang menarik dan memiliki nilai," ujarnya.
Menurut Retno, proses pembuatan kostum mengajarkan siswa tentang perancangan, kerja sama tim, dan tanggung jawab. Keberanian untuk tampil di hadapan publik juga menjadi nilai tambah yang tidak didapat dari buku pelajaran.
Jaranan dan Oklik: Napas Tradisi di Tengah Karnaval
Kreativitas berbahan bekas bukan satu-satunya suguhan. Puluhan siswa lain turun membawakan kesenian jaranan di depan panggung kehormatan. Penampilan ini menjadi medium pengenalan warisan budaya lokal kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.
Iringan musik oklik atau kotekan turut memeriahkan suasana. Bunyi khas dari alat musik sederhana tersebut berhasil menghidupkan atmosfer pertunjukan dan membuat warga yang semula hanya menonton ikut bertepuk tangan.
Forkopimcam Giritontro serta tamu undangan yang hadir tampak menikmati setiap rangkaian atraksi. Tepuk tangan riuh terdengar setelah para siswa menyelesaikan aksinya di depan panggung utama.
Membangun Karakter Lewat Panggung Rakyat
Koordinator Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro, Marsudhi Wibowo, menyebut seluruh penampilan memiliki muara yang sama. "Selain beragam yang ditampilkan, ujungnya tetap satu, yaitu bagaimana anak-anak dapat menunjukkan kreativitas, kekompakan dan potensi yang mereka miliki. Kami ingin mereka berani tampil, percaya diri dan mampu memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat," ungkapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan dalam karnaval menjadi simulasi kehidupan nyata bagi siswa. Mereka dituntut untuk disiplin mengikuti alur iring-iringan, bertanggung jawab atas kostum yang dikenakan, dan saling menghargai peran satu sama lain.
Perpaduan antara Batik Carnival yang modern dan jaranan yang tradisional memberi warna tersendiri bagi barisan SMP Negeri 2 Giritontro. Karnaval tahun ini seolah menyampaikan pesan sederhana namun dalam: karya yang mengesankan tidak selalu lahir dari bahan mahal—sering kali justru berasal dari barang yang dianggap sampah, ketika diolah dengan kreativitas dan keberanian.