Pencarian

UMKM Tempe di Demak yang Bertahan 37 Tahun Ini Kini Dibantu Promosi Digital oleh Mahasiswa KKN

Selasa, 01 September 2026 • 16:16:31 WIB
UMKM Tempe di Demak yang Bertahan 37 Tahun Ini Kini Dibantu Promosi Digital oleh Mahasiswa KKN
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 96 mendokumentasikan proses pembuatan tempe di Desa Bakalrejo, Demak, untuk promosi digital.

Usaha tempe yang dijalankan Ahmad Jauhari telah menjadi bagian dari denyut ekonomi Desa Bakalrejo selama lebih dari tiga dekade. Tanpa merek khusus dan hanya mengandalkan pemasaran tradisional, produknya selama ini dipasarkan ke pasar dan warung-warung sekitar desa. Kondisi itu yang coba diubah oleh mahasiswa KKN-MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 96 melalui pendekatan promosi digital.

Usaha Keluarga yang Bertahan Sejak 1989

Lahir dan tumbuh di lingkungan produksi tempe, Ahmad Jauhari mewarisi usaha yang telah dirintis keluarganya sejak 1989. Dalam kunjungan yang dilakukan Kamis (06/08/2026), mahasiswa melihat langsung proses produksi yang masih dikerjakan secara sederhana dan manual.

Modal utama usaha ini adalah konsistensi. Selama puluhan tahun, tempe produksinya selalu habis terjual ke pasar dan warung langganan. Namun, jangkauan pemasaran yang terbatas membuat usaha ini nyaris tidak berkembang secara signifikan.

Proses Fermentasi Butuh Dua Hari Sebelum Dikemas

Mahasiswa yang tergabung dalam Divisi Ekonomi Kreatif (Ekraf) itu mengamati langsung tahapan pembuatan tempe yang masih mempertahankan cara tradisional. Prosesnya dimulai dari merebus kedelai hingga matang, lalu merendamnya selama sehari semalam hingga muncul rasa sedikit asam.

"Pertama rebus kedelai terlebih dahulu sampai matang kemudian direndam sehari semalaman hingga terasa sedikit asam. Lalu dicuci dan diremas-remas sampai bersih. Setelah itu diberi ragi tempe secukupnya dan diaduk sampai rata lalu dibungkus dengan plastik yang sudah dilubangi atau daun pisang," ujar Ahmad Jauhari.

Kedelai yang telah dicampur ragi kemudian dibungkus dan didiamkan selama kurang lebih dua hari untuk proses fermentasi. Selama rentang waktu tersebut, jamur tempe tumbuh dan merekatkan biji-biji kedelai menjadi produk yang siap dipasarkan.

Produksi Tanpa Limbah yang Terbuang

Selain mengamati proses produksi utama, mahasiswa juga menemukan sisi ramah lingkungan dari usaha ini. Limbah dari pembuatan tempe tidak dibuang begitu saja, melainkan diberikan kepada peternak kambing di sekitar desa untuk dijadikan pakan ternak.

Pola ini dinilai sebagai praktik ekonomi sirkular sederhana yang layak dipromosikan. Upaya itu juga memperlihatkan bahwa usaha tradisional bisa berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan tanpa biaya tambahan.

Video Promosi untuk Media Sosial

Kunjungan ini tidak hanya berhenti pada pendataan dan wawancara. Mahasiswa kemudian mendokumentasikan seluruh tahapan pembuatan tempe dalam bentuk video yang direncanakan dipublikasikan melalui Instagram dan TikTok. Konten tersebut dirancang untuk memperkenalkan produk Desa Bakalrejo kepada konsumen yang lebih luas.

Salah satu mahasiswa KKN Posko 96, Hanya Abriananta, menilai usaha tempe ini memiliki potensi besar yang selama ini belum tergarap maksimal dari sisi pemasaran.

"Kunjungan ini membuat kami mengetahui usaha tempe di Desa Bakalrejo memiliki potensi yang cukup besar dan sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Kami ingin membantu mengenalkan produk melalui konten yang menarik, memperlihatkan proses pembuatan tempe dari awal hingga siap dijual," tutur Hanya.

Harapan Perluasan Pasar dan Pengembangan Usaha

Kegiatan ini menjadi bagian dari program KKN-MIT 22 UIN Walisongo Posko 96 dalam mengidentifikasi dan mendukung potensi ekonomi lokal. Melalui promosi digital, diharapkan tempe yang telah bertahan puluhan tahun itu tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga menembus konsumen di luar Desa Bakalrejo.

Dengan adanya pendampingan dari mahasiswa, peluang pengembangan usaha seperti pembuatan merek dan kemasan yang lebih modern juga terbuka. Produk yang selama ini identik dengan penjualan tradisional kini punya jalan untuk beradaptasi dengan era digital tanpa meninggalkan kearifan lokal yang sudah melekat sejak 1989.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jatengnews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks