SEMARANG — OASE 2026 menjadi ruang kolaborasi bagi santri, pelajar, mahasiswa, komunitas kreatif, pelaku usaha, hingga masyarakat umum. Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat ekonomi syariah yang inklusif dan memberikan dampak nyata.
"Kami ingin ekonomi syariah menjadi bagian dari penguatan pertumbuhan ekonomi daerah yang berdaya saing dan berkelanjutan," ujarnya.
Enam Kompetisi yang Dipertandingkan
Selama tiga hari pelaksanaan, OASE 2026 menghadirkan enam kompetisi yang mencakup berbagai aspek pengembangan ekonomi syariah. Kompetisi tersebut meliputi Hadroh, Dakwah Ekonomi Syariah, Musabaqah Keilmuan Santri, ZISWAF Unggulan, Halal Chef Competition, serta Lomba Konten Ekonomi Syariah.
Selain perlombaan, BI Jateng juga menggelar workshop kemandirian pesantren melalui pengelolaan pertanian organik terintegrasi. Narasumber dari Yoso Farm, Klaten, dihadirkan untuk mendorong pesantren mengembangkan usaha produktif berbasis halal dan berkelanjutan.
Booth Edukasi dan Kewaspadaan Penipuan Digital
OASE 2026 juga menghadirkan booth edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tugas dan fungsi Bank Indonesia. Booth tersebut memberikan edukasi terkait sistem pembayaran, pelindungan konsumen, serta kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang terus berkembang.
Pembukaan acara dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, serta mitra strategis seperti Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jawa Tengah dan Himpunan Bisnis dan Ekonomi Pesantren (Hebitren) Jawa Tengah.
Menuju Festival Jateng Syariah 2026
OASE 2026 menjadi bagian dari rangkaian menuju Festival Jateng Syariah (FAJAR) 2026 yang akan digelar pada 6–9 Agustus 2026 di Queen City Mall Semarang. Melalui sinergi bersama pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pesantren, pelaku usaha, dan berbagai mitra strategis, BI Jateng berharap penguatan literasi, inklusi, dan rantai nilai halal dapat semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah di Jawa Tengah.
Seluruh pemangku kepentingan yang hadir menegaskan pentingnya kolaborasi membangun ekosistem ekonomi syariah. Pesantren dinilai memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, sekaligus pemberdayaan ekonomi umat.