JAWA TENGAH — Stok beras Bulog yang mencapai 5,2 juta ton menjadi rekor baru dalam sejarah ketahanan pangan nasional. Di Jawa Timur saja, perusahaan pelat merah ini mengelola 1,4 juta ton beras, sementara kapasitas gudangnya mencapai 1,6 juta ton. Artinya, masih ada ruang untuk terus menyerap hasil panen petani tanpa khawatir kelebihan kapasitas.
Sinergi Lintas Sektor di Banyuwangi
Angka itu disampaikan Ahmad Rizal Ramdhani di hadapan Bupati Banyuwangi, perwakilan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, PT Pupuk Indonesia, ID FOOD, serta petani dan nelayan setempat. Forum reses Komisi IV DPR RI itu membahas sektor pertanian dan perikanan di wilayah pesisir Banyuwangi.
Menurut Rizal, ketahanan pangan bukan pekerjaan satu institusi. "Ketahanan pangan merupakan agenda strategis nasional yang hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya dalam forum tersebut.
Penyerapan Gabah Petani Jadi Prioritas
Bulog mendapat penugasan pemerintah untuk menyerap hasil panen petani, mengelola Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dan menyalurkan beras ke seluruh Indonesia. Tujuannya: menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tingkat konsumen.
Rizal menambahkan, perusahaannya terus memperkuat ekosistem pangan dari hulu ke hilir. "Kami berkomitmen menyerap hasil panen petani secara optimal, menjaga CBP tetap aman, serta memastikan setiap penugasan pemerintah dapat terlaksana dengan baik," kata dia.
Dampak ke Petani dan Masyarakat
Dengan stok yang melimpah, petani tidak perlu khawatir harga gabah anjlok saat panen raya. Bulog bisa menyerap produksi mereka dengan harga acuan pemerintah. Bagi masyarakat, ketersediaan beras yang besar berarti harga di pasar tradisional lebih terkendali, terutama menjelang hari besar keagamaan atau saat gagal panen di beberapa daerah.
Bupati Banyuwangi dan perwakilan petani yang hadir menyambut positif komitmen Bulog. Mereka berharap sinergi ini tidak berhenti di forum, tetapi berlanjut ke program serapan gabah yang lebih cepat dan distribusi pupuk yang tepat waktu.
Stok 5,2 juta ton ini menjadi modal besar bagi pemerintah untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan. Namun, tantangan tetap ada: menjaga kualitas beras di gudang, mempercepat distribusi ke daerah terpencil, dan memastikan petani kecil benar-benar menikmati harga layak. Bulog mengklaim siap menjalankan peran itu dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.