JAWA TENGAH — Pemerintah menargetkan 15 juta unit kendaraan listrik mengaspal di Indonesia pada 2030. Tapi data Kementerian Perhubungan per Juli 2026 baru mencatat 386.591 unit. Ironisnya, minat masyarakat tinggi: 70,96 persen mengaku tertarik membeli EV dalam lima tahun ke depan. Kenapa realisasi tak sebanding dengan antusiasme?
Harga Bukan Lagi Penghalang Utama
Selama ini harga beli EV yang lebih mahal dari mobil konvensional dianggap sebagai tembok terbesar. Namun survei terbaru membantah: hanya 7,16 persen responden yang menyebut harga sebagai alasan utama menunda pembelian.
Konsumen mulai paham soal total cost of ownership. Biaya operasional harian dan perawatan EV lebih murah ketimbang mobil bensin dalam jangka panjang. Hambatan sesungguhnya kini bergeser ke isu kepercayaan terhadap ekosistem dan teknologi baterai.
Baterai dan Nilai Jual Kembali Jadi Momok
Kekhawatiran terbesar konsumen bertumpu pada baterai: 28,65 persen responden mengkhawatirkan umur pakai, kualitas, dan biaya penggantian jika rusak. Ketidakjelasan layanan purnajual serta resale value ikut memperkuat keraguan.
Yannes Martinus Pasaribu, pakar otomotif dari ITB, menegaskan lonjakan penjualan BEV di bulan-bulan tertentu belum bisa dijadikan indikator pasar matang. "Pasar mobil EV bekas di Indonesia belum terbentuk secara kuat," ujarnya. Konsumen tak punya kepastian soal penilaian kondisi baterai setelah garansi habis. Industri daur ulang baterai dalam negeri juga belum masif.
Infrastruktur Pengisian Daya Timpang
Hambatan struktural paling terasa: 59,04 persen masyarakat menilai SPKLU dan SPBKLU masih sangat kurang. Pembangunan stasiun pengisian terkonsentrasi di kawasan komersial kota besar.
Keterbatasan ini memicu range anxiety—takut kehabisan daya di tengah perjalanan, terutama saat mudik atau liburan ke luar kota. Mayoritas keluarga Indonesia hanya punya satu mobil untuk segala kebutuhan. Minimnya SPKLU di daerah jadi alasan kuat tetap setia pada mobil konvensional. Apalagi BBM bersubsidi masih tersedia, membuat daya tarik ekonomi EV untuk mobilitas harian terasa kurang maksimal.
Miskonsepsi Keamanan Baterai
Sebagian masyarakat menahan diri karena khawatir baterai meledak saat tabrakan atau korsleting. Padahal mobil listrik yang diizinkan mengaspal sudah melewati standar keamanan berlapis yang ketat.
Secara teknis, EV dilengkapi Battery Management System standar ISO 6469-1 yang memantau sel baterai secara real-time. Jika terdeteksi anomali suhu atau benturan keras, kontaktor tegangan tinggi otomatis memutus sirkuit listrik. Sistem kemudi dan pengereman memenuhi standar UN R13-H dengan redundansi mekanis dan hidrolik—tetap berfungsi penuh meski daya utama mati. Yang dibutuhkan saat ini adalah edukasi agar pengemudi beradaptasi dengan karakter berkendara EV.
Peta Jalan Transisi Masih Disusun
Pemerintah sadar transisi energi di sektor transportasi tak bisa terjadi sekejap. Ekosistem kendaraan fosil terbentuk selama puluhan tahun. Kementerian Perindustrian saat ini sedang menyusun ulang roadmap transformasi kendaraan listrik nasional yang lebih komprehensif.
Aturan ini dirancang agar industri otomotif yang sudah eksis mendapat kepastian arah investasi secara bertahap, tanpa harus mematikan fasilitas produksi yang sudah ada. Sampai peta jalan itu jelas dan infrastruktur merata, konsumen Indonesia kemungkinan besar akan tetap wait and see.