SOLO — Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, memerintahkan jajarannya di Jawa Tengah untuk bergerak cepat menyongsong Pemilu 2029. Instruksi itu disampaikan dalam Rakorwil perdana DPW PSI Jateng di Solo, Kamis (8/1/2025).
Target 17 Kursi Provinsi dan 100 Fraksi di Daerah
Kaesang menilai capaian 12 kursi DPRD di Jawa Tengah saat ini masih terlalu kecil. Ia mematok target 17 kursi di tingkat provinsi dan minimal 100 fraksi terisi di tingkat kabupaten/kota pada pemilu mendatang.
"Jujur saja, 12 kursi itu masih terlalu kecil untuk Jawa Tengah. Target kita ke depan 17 kursi di tingkat provinsi. Untuk kabupaten atau kota, minimal 100 fraksi harus terisi," ucap Kaesang dalam sambutannya.
Konsolidasi Lapangan Dipanaskan, Jokowi Dijadwalkan Turun ke Jateng
Ketua DPW PSI Jawa Tengah, Antonius Yogo, menyebut struktur partai di daerah sudah hampir rampung. Ia melaporkan capaian kinerja struktur yang mencapai 95 persen kepada Kaesang.
Sebagai bagian dari konsolidasi, Yogo mengungkapkan rencana membawa figur sentral partai turun langsung ke masyarakat. Jadwal keliling ke 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah tengah dimatangkan, dengan target dimulai pertengahan Juli ini.
"Kami segera menunggu jadwal dari Bapak untuk tanggalnya. Yang jelas, tugas kami hari ini mempersiapkan untuk Bapak turun, untuk Bapak keliling Jateng, memastikan bahwa Jateng benar-benar sebagai 'kandang gajah'," papar Yogo.
Analis: Menggeser Basis PDIP di Jateng Tidak Semudah Itu
Di balik target dan kesiapan struktur, peta politik lokal Jawa Tengah disebut menjadi tantangan utama. Pendiri Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, mengingatkan bahwa basis massa PDIP sudah mengakar kuat.
"Kalau PDIP digembosi, ya PDIP kan punya segmen sendiri. Enggak semudah itu juga," jelas Pangi.
Menurutnya, keberhasilan elektoral tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan logistik dan kampanye besar. Ia menyoroti belum adanya tawaran program dan ideologi khas dari PSI untuk menarik pemilih di Jawa Tengah.
"PSI ini apa segmennya, kan nilai jualnya juga enggak ada sampai sekarang," sebutnya.
Pangi menekankan bahwa kedekatan emosional masyarakat dengan partai penguasa tidak bisa diukur semata-mata dari kekuatan uang. "Kalau kandang gajah mau menggeser kandang banteng ya enggak segampang itu, tidak mudah juga," katanya.