Pencarian

Indonesia Pasar Digital US$99 Miliar, tetapi Belum Jadi Kekuatan Teknologi

Minggu, 01 November 2026 • 09:50:31 WIB
Indonesia Pasar Digital US$99 Miliar, tetapi Belum Jadi Kekuatan Teknologi
Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$99 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara.

JAWA TENGAH — Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$99 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara. Namun besarnya pasar belum otomatis menjelma kekuatan teknologi karena penguasaan teknologi inti, kepemilikan industri, dan nilai tambah data masih tertinggal.

Majalah ICT dalam editorial terbarunya menyoroti paradoks yang selama ini jarang dibahas terbuka: Indonesia menggunakan teknologi dalam skala raksasa, tetapi belum sepenuhnya menguasai teknologi yang dipakai. Data mengalir deras, tetapi nilai tambahnya belum optimal dinikmati industri nasional. Startup tumbuh ribuan, tetapi belum semuanya berkembang menjadi perusahaan teknologi dengan produk, paten, dan inovasi sendiri.

Angka US$99 miliar memang layak dibanggakan. Besarnya pasar mencerminkan daya beli masyarakat, peluang ekonomi, dan potensi investasi yang menjanjikan. Pertanyaannya, apakah Indonesia sedang membangun kekuatan digital atau sekadar menjadi pasar yang semakin besar bagi perusahaan teknologi global?

Besar sebagai Pasar Belum Tentu Kuat sebagai Kekuatan Digital

Jumlah pengguna internet yang mencapai ratusan juta jelas modal penting. Semakin besar basis pengguna, semakin menarik sebuah negara bagi perusahaan teknologi, investor, dan penyedia layanan digital. Tetapi jumlah pengguna bukan satu-satunya ukuran kekuatan digital.

Sebuah negara bisa memiliki pasar e-commerce besar tanpa platform yang cukup kuat bersaing di tingkat global. Bisa punya banyak pusat data, tetapi masih bergantung pada teknologi cloud, perangkat keras, perangkat lunak, dan sistem komputasi yang dikembangkan di luar negeri.

Editorial Majalah ICT menegaskan pertumbuhan konsumsi digital belum otomatis menghasilkan kemandirian industri digital. Ini yang disebut sebagai paradoks yang harus dihadapi Indonesia.

Enam Elemen yang Menentukan Kekuatan Digital

Konsep kekuatan digital jauh lebih luas dari sekadar kedaulatan data. Perlindungan data pribadi, lokasi penyimpanan data, keamanan siber, dan pengaturan platform asing tetap penting. Namun kekuatan digital sesungguhnya menyangkut kemampuan sebuah negara membangun, menguasai, mengelola, dan memanfaatkan teknologi sebagai sumber kekuatan ekonomi, sosial, industri, dan geopolitik.

Majalah ICT merinci enam elemen penentunya:

  • Penguasaan teknologi — kemampuan mengembangkan perangkat lunak, AI, cloud, keamanan siber, semikonduktor, hingga teknologi komunikasi generasi berikutnya.
  • Kepemilikan industri digital — perusahaan teknologi nasional yang bukan sekadar pengguna atau distributor, melainkan pencipta produk, pemilik kekayaan intelektual, dan pemain rantai nilai global.
  • Penguasaan infrastruktur strategis — jaringan telekomunikasi, kabel laut, satelit, pusat data, komputasi, dan cloud yang dikembangkan dengan kepentingan jangka panjang nasional.
  • Kualitas sumber daya manusia — peneliti, insinyur, pengembang perangkat lunak, ahli AI, dan pakar keamanan siber tingkat lanjut.
  • Kemampuan mengatur dan memengaruhi ekosistem — kapasitas regulasi, diplomasi teknologi, dan posisi tawar dalam menentukan standar serta tata kelola digital global.
  • Kemampuan menghasilkan nilai ekonomi — teknologi yang dikuasai harus menghasilkan produk, layanan, investasi, ekspor, dan lapangan kerja berkualitas.

Keterbukaan tanpa Strategi Penguatan Kapasitas Nasional

Editorial Majalah ICT tidak menolak investasi asing, membatasi inovasi, atau menutup diri dari perkembangan teknologi dunia. Indonesia justru membutuhkan investasi, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap teknologi global.

Yang disorot adalah risiko keterbukaan tanpa strategi penguatan kapasitas nasional. Pola itu membuat Indonesia terus berada pada posisi pengguna, sementara penguasaan teknologi, kekayaan intelektual, dan sebagian besar nilai strategis ekonomi digital berada di tangan pihak lain.

Bagi pelaku industri, sinyal ini relevan sebagai pengingat bahwa pertumbuhan transaksi digital tidak otomatis memperkuat posisi tawar nasional. Bagi investor, besarnya pasar tetap menjadi daya tarik, tetapi keberlanjutan nilai jangka panjang bergantung pada seberapa jauh rantai nilai teknologi dikuasai di dalam negeri.

Arah Baru: dari Digital Market ke Digital Power

Majalah ICT menyimpulkan sudah waktunya Indonesia bergerak dari Digital Market menuju Digital Power. Pergeseran itu menuntut strategi yang tidak berhenti pada menarik investasi dan memperbesar konsumsi digital, tetapi juga membangun kapasitas teknologi, industri, dan talenta di dalam negeri.

Tanpa langkah itu, predikat pasar digital terbesar di Asia Tenggara berisiko tetap menjadi gelar konsumen, bukan kekuatan yang menentukan arah ekosistem digital kawasan.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: majalahict.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks