Pencarian

Peta SO2 Anak Krakatau Merah, Badan Geologi: Bukan Ukuran Bahaya di Permukaan

Rabu, 09 September 2026 • 14:33:31 WIB
Peta SO2 Anak Krakatau Merah, Badan Geologi: Bukan Ukuran Bahaya di Permukaan
Badan Geologi menyatakan peta sebaran SO2 Anak Krakatau mengukur konsentrasi gas di kolom atmosfer, bukan di permukaan bumi.

JAWA TENGAH — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda melepaskan gas sulfur dioksida (SO2) yang terbawa dinamika atmosfer. Data satelit kemudian menampilkan anomali konsentrasi gas tersebut dalam bentuk peta sebaran, dan beberapa wilayah tampak berwarna merah pekat.

Warna itu sempat menimbulkan pertanyaan di media sosial. Sebagian warganet mengaitkannya langsung dengan kualitas udara di lokasi terdampak.

Arti Warna Merah pada Peta Satelit

Badan Geologi melalui akun Instagram resminya @badan.geologi menjelaskan interpretasi peta tersebut. Lembaga ini menegaskan satelit mengukur jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan gas yang berada tepat di permukaan bumi.

"Peta satelit menunjukkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi gas di permukaan yang kita hirup," tulis Badan Geologi.

Warna merah pada peta mengindikasikan adanya anomali SO2 dengan konsentrasi lebih tinggi dari kondisi normal di atmosfer. Namun hal itu tidak bisa langsung dijadikan indikator bahwa udara di permukaan suatu wilayah sedang berbahaya untuk dihirup.

Satuan Ukur Berbeda dengan Ambang Kesehatan

Peta sebaran SO2 menggunakan satuan mg/m² yang menggambarkan massa gas per satuan luas kolom udara. Satuan ini berbeda dengan ppm yang dipakai untuk menyatakan konsentrasi gas di udara yang dihirup manusia.

Artinya, area berwarna merah tidak otomatis berarti masyarakat yang tinggal di bawahnya sedang menghirup SO2 dalam konsentrasi berbahaya. Bahaya gas ini bagi manusia sangat bergantung pada ketinggiannya berada di troposfer.

Kenapa Bau Belerang Bisa Tercium?

Badan Geologi membandingkan kondisi erupsi Gunung Ruang pada 2024 dengan aktivitas Anak Krakatau pada 2026. Saat erupsi Gunung Ruang, gas terlepas hingga sekitar 5.000 meter dan berada di bagian atas troposfer sehingga tidak langsung terhirup masyarakat.

Pada Anak Krakatau, fenomena lava fountain atau semburan lava menerus membuat gas dilepaskan ke bagian atmosfer yang lebih rendah. Ketika gas berada relatif dekat dengan permukaan dan terbawa angin, bau SO2 menyengat bisa tercium masyarakat di wilayah yang jauh dari sumber erupsi.

Ambang Aman dan Langkah Pencegahan

Sulfur dioksida merupakan gas vulkanik tidak berwarna dengan bau tajam. Dampaknya terhadap manusia bergantung pada konsentrasi dan lama paparan. Badan Geologi menyebut konsentrasi hingga 5 ppm masih aman bagi kesehatan. Jika melampaui ambang itu, paparan bisa memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, serta gangguan saluran pernapasan dan paru-paru.

Masyarakat yang mencium bau SO2 dianjurkan memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan, berlindung di dalam bangunan untuk mengurangi paparan gas, serta tidak meminum air hujan karena gas sulfur dapat bereaksi dengan uap air dan membuatnya bersifat asam.

Status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks