Pencarian

Bansos Terhenti Sejak Awal 2026, Pasangan Lansia di Pekalongan Ini Hidup dari Upah Rp3.000 Seminggu

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 16:46:01 WIB
Bansos Terhenti Sejak Awal 2026, Pasangan Lansia di Pekalongan Ini Hidup dari Upah Rp3.000 Seminggu
Pasangan lansia di Pekalongan, Dayat (77) dan Darmi (63), mengandalkan upah Rp3.000 per minggu dari membersihkan benang kain sisa konveksi setelah bansos terhenti sejak awal 2026.

PEKALONGAN — Dayat menghabiskan hari-harinya dengan duduk di teras rumah sederhananya di Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar. Di pangkuannya, tumpukan kain sisa produksi konveksi menanti dibersihkan dari benang-benang yang menempel. Pekerjaan yang dikenal warga sebagai buruh kerimbas ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang masih bisa ia lakukan di usianya yang ke-77.

Upah yang diterimanya jauh dari kata layak. Dalam sepekan, pria yang tinggal bersama istrinya, Darmi (63), itu hanya mengantongi Rp3.000 dari pekerjaan tersebut. "Kalau Pak Dayat itu kesehariannya hanya buruh, Mas. Buruhnya itu buruh kerimbas, mbuangi benang. Upahnya minim. Seminggu hanya dapat Rp3 ribu," kata Neli Setyowati, perangkat sekaligus operator data kesejahteraan sosial Desa Kayugeritan, Jumat (28/8/2026).

Riwayat Pekerjaan yang Kini Tak Mampu Dilakukan

Sebelum kondisinya menurun, Dayat masih bisa mencari kayu bakar di sekitar desa untuk dijual. Pekerjaan itu dulu menjadi penopang utama kebutuhan dapurnya. Namun, usia dan kesehatan yang kian melemah memaksanya berhenti.

"Biasanya waktu Bapaknya sehat, Pak Dayat itu mencari kayu bakar untuk dijual. Tapi sekarang karena keadaan kesehatan tidak memungkinkan, juga umurnya sudah sepuh, akhirnya tidak pernah mencari kayu bakar lagi," ujar Neli.

Kini, membersihkan benang dari kain sisa konveksi menjadi pilihan terakhir. Meski hasilnya nyaris tidak berarti, Dayat tetap melakukannya. Setiap rupiah yang ia dapatkan adalah harapan untuk membeli beras atau sekadar lauk pauk sederhana.

Bantuan dari Tetangga dan Perangkat Desa

Dengan penghasilan yang tak sebanding dengan kebutuhan, pasangan lansia ini menggantungkan hidup pada uluran tangan orang-orang di sekitarnya. Tetangga kerap memberikan bantuan sembako atau uang receh sesuai kemampuan masing-masing.

Pemerintah Desa Kayugeritan pun tidak tinggal diam. Neli menyebut, Kepala Desa Kayugeritan beberapa kali mengeluarkan uang pribadi untuk membelikan sembako bagi Dayat dan Darmi. Bantuan itu, menurutnya, menjadi penyambung hidup di tengah ketidakjelasan status bansos yang mereka terima.

Terhentinya bansos sejak awal 2026 menjadi pukulan berat bagi pasangan ini. Mereka sempat tercatat sebagai penerima bantuan, namun entah karena apa penyalurannya terhenti. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai kapan bantuan tersebut akan kembali disalurkan.

Di tengah keterbatasan, Dayat dan Darmi tetap menjalani hari dengan sabar. Pekerjaan kecil membersihkan benang itu adalah bukti bahwa di usia senja, ia masih berusaha mempertahankan martabatnya tanpa sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang lain. Namun, tanpa kepastian bansos, masa depan rumah tangga mereka di Desa Kayugeritan ini menggantung.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jateng.disway.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks