JAWA TENGAH — Permainan tradisional egrang yang akrab disebut teklak-teklak oleh masyarakat Jawa Tengah menyajikan tantangan tersendiri bagi para pendatang baru. Dalam sebuah kesempatan syuting acara televisi di Jawa Tengah, para selebriti yang mencoba memainkan permainan ini harus berjuang keras menjaga keseimbangan tubuh mereka di atas dua batang bambu.
Dokumentasi yang dibagikan dari program Tanah Air Beta Trans TV memperlihatkan momen para pesohor yang tampak kesulitan saat pertama kali menginjakkan kaki di pijakan egrang. Beberapa di antara mereka bahkan belum berhasil berdiri tegak saat mencoba menaiki alat tradisional tersebut.
Egrang Bukan Sekadar Berdiri di Atas Bambu
Kesan sederhana yang terlihat dari kejauhan ternyata berbanding terbalik dengan realita di lapangan. Untuk bisa berdiri di atas egrang, dibutuhkan koordinasi otot kaki, keseimbangan tubuh, dan keberanian yang tidak kecil. Tekanan tubuh yang bertumpu pada dua bilah bambu membuat pemain harus ekstra waspada.
Permainan yang dulunya populer di kalangan anak-anak Jawa Tengah ini memang mengandalkan kekuatan otot paha dan betis. Tanpa latihan yang cukup, tubuh akan mudah goyah dan berisiko terjatuh. Hal ini pula yang dialami para selebriti dalam dokumentasi tersebut.
Warisan Budaya yang Masih Hidup di Jawa Tengah
Egrang sendiri merupakan permainan tradisional yang tersebar di berbagai daerah Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Di Jawa Tengah, masyarakat mengenalnya dengan sebutan teklak-teklak atau jangkungan. Permainan ini biasanya menggunakan dua batang bambu setinggi satu hingga dua meter dengan pijakan kayu di bagian bawahnya.
Meski kini jarang dimainkan anak-anak di perkotaan, egrang masih kerap dilombakan dalam acara-acara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di berbagai desa dan kelurahan di Jawa Tengah. Kehadiran permainan ini dalam acara televisi nasional turut mengenalkan kembali warisan budaya tersebut kepada generasi muda.
Mengapa Permainan Ini Menantang bagi Pemula?
Tantangan utama saat memainkan egrang terletak pada titik tumpu yang sempit. Berbeda dengan sepatu roda yang menapak di permukaan datar, pijakan egrang hanya selebar telapak kaki. Pergelangan kaki dituntut bekerja ekstra untuk menjaga poros tubuh tetap tegak lurus.
Selain itu, bambu yang digunakan juga memiliki bobot yang cukup berat. Semakin tinggi egrang, semakin sulit pula mengendalikannya. Untuk melangkah, pemain harus mengangkat bambu secara bersamaan dengan ritme yang konsisten. Kesalahan kecil pada salah satu langkah bisa berujung pada kehilangan keseimbangan.
Kegagalan para selebriti dalam dokumentasi tersebut justru menjadi bukti bahwa permainan tradisional Indonesia memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa keterampilan bermain egrang tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses belajar dan latihan yang tekun.
Kehadiran egrang di layar kaca melalui program Tanah Air Beta diharapkan mampu menumbuhkan kembali minat masyarakat terhadap permainan tradisional. Di tengah gempuran gawai dan permainan digital, eksistensi egrang sebagai warisan budaya perlu terus dilestarikan.