SEMARANG — Lahan tidur di KHDTK UNDIP Penggaron, Semarang, kembali produktif setelah dihidupkan sebagai sawah modern. Kawasan yang sebelumnya terbengkalai setengah dekade ini kini dikembangkan menjadi laboratorium lapangan pertanian berkelanjutan.
Universitas Diponegoro menggarap lahan seluas dua hektare yang sudah diolah dan mulai ditanami padi. Inovasi ini mengedepankan teknologi tepat guna serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.
Beroperasi dengan Panel Surya dan Pompa Hidrolik
Kepala Kantor KHDTK, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono KS, M.P., menjelaskan sistem pengairan sawah ini mengandalkan energi matahari. Enam panel surya berkapasitas sekitar 60 meter kubik per jam dioperasikan setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
"Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam," jelasnya.
Sumber air berasal dari sungai yang sudah diuji bebas kontaminasi logam berat. Tingkat keasaman tanah juga terukur pada pH 7 hingga 8, kondisi yang dinilai ideal untuk budidaya padi.
Uji Coba Varietas Unggul Hingga Padi Khusus Diabetes
Tahap awal penanaman menggunakan varietas Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago, varietas padi gogo yang cocok untuk lahan kering. Ke depan, UNDIP akan mengembangkan varietas unggul hasil persilangan Rojolele dengan padi asal Jepang.
Uji coba juga akan dilanjutkan dengan padi merah yang kaya nutrisi dan serat, cocok untuk penderita diabetes. "Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan," ujar Prof. Puryono.
Kawasan Ini Juga Disiapkan Jadi Edu-Ekowisata
Wakil Rektor II bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., menegaskan pengembangan ini tidak hanya untuk hasil panen. Kawasan KHDTK diarahkan menjadi pusat pembelajaran dan penelitian pertanian.
Lahan produktif ini juga akan dipadukan dengan potensi wisata alam. UNDIP berencana menggandeng komunitas jeep di sekitar kawasan untuk mendukung konsep edu-ekowisata hutan.
"Diharapkan kawasan KHDTK UNDIP di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan," ujarnya.
Kehadiran UNDIP di kawasan ini menempatkan masyarakat sebagai bagian penting. "Kehadiran UNDIP adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga," imbuhnya.
Melalui integrasi pertanian berkelanjutan, riset, dan ekowisata, KHDTK Penggaron diharapkan memberi manfaat ekonomi sekaligus edukatif bagi warga sekitar.