Di Solo, Yogyakarta, hingga Semarang, keluarga muda tak begitu saja meninggalkan adat. Siraman, midodareni, panggih—ritual itu tetap jadi menu wajib, meski resepsi dikemas modern. Bukan karena konservatif, melainkan karena setiap tahapan punya bobot doa yang diyakini memperkuat fondasi rumah tangga.
Prosesi ini bukan tontonan. Setiap gerak, sesaji, dan ujatan punya makna. Di bawah ini tujuh tahapan kunci yang masih jamak ditemukan di pernikahan adat Jawa Tengah—khususnya gaya Surakarta dan Yogyakarta yang kerap dijadikan patokan.
1. Siraman: Membersihkan Diri Sebelum Hari Bahagia
Siraman dilakukan sehari sebelum akad, biasanya di rumah calon pengantin. Orang tua, sesepuh, dan kerabat dekat bergiliran menyiramkan air bunga ke calon pengantin. Air yang digunakan campuran tujuh macam kembang—melati, mawar, kenanga, kantil, dan lainnya—dari sumber berbeda.
Filosofinya: pengantin dibersihkan lahir batin dari segala hal buruk. Prosesi ini dipimpin oleh seorang sesepuh yang mendoakan kelancaran pernikahan. Tak jarang, siraman dibuat terbuka untuk keluarga inti agar suasana lebih khidmat dan penuh haru.
2. Midodareni: Malam Penjagaan Doa
Midodareni berasal dari kata “widodari” (bidadari). Konon, malam sebelum akad, bidadari turun mendampingi calon pengantin perempuan. Ritual ini digelar di rumah mempelai wanita, dimulai dengan sungkeman kepada orang tua, lalu diteruskan dengan sesorah (pidato adat) dari perwakilan keluarga calon mempelai pria.
Yang khas: keluarga pria membawa seserahan, bukan maskawin. Bisa berupa perhiasan, kain batik, hingga makanan tradisional. Midodareni menjadi puncak acara keluarga inti sebelum hari H. Banyak pasangan di Jawa Tengah masih mempertahankan malam ini meski resepsi besoknya bergaya modern.
3. Ijab Kabul: Akad Nikah dengan Saksen dan Doa
Akad nikah di adat Jawa Tengah biasanya digelar di siang hari. Calon mempelai pria duduk bersila di hadapan penghulu dan saksi. Mahar umumnya berupa logam mulia atau uang sesuai kesepakatan. Prosesi ini singkat—sekitar 10–15 menit—tapi sarat dengan bacaan Al-Fatihah dan shalawat.
Yang membedakan di beberapa daerah: ada tradisi “tukar cincin” setelah ijab kabul. Cincin dari emas atau perak melambangkan ikatan abadi. Usai akad, pengantin pria membacakan janji perkawinan, lalu dilanjutkan dengan pembacaan doa dari sesepuh.
4. Panggih: Pertemuan Resmi Pasangan Pengantin
Panggih adalah ritual pertemuan pertama mempelai setelah akad. Dalam acara ini, pengantin putri diarak berjalan perlahan menuju pelaminan, sementara pengantin pria menyambut. Ada beberapa urutan yang harus dilakukan: balangan suruh (melempar sirih), wiji dadi (menanam benih), hingga kacar-kucur (menuangkan uang logam dan beras ke kendi).
Mempelai lalu duduk berdampingan di pelaminan. Tak jarang, panggih juga diiringi tarian gandrung atau pembacaan tembang macapat. Di Solo dan Yogya, panggih sering disaksikan langsung oleh seluruh tamu undangan, menandai dimulainya resepsi resmi.
5. Sinduran: Ikat Pertalian dengan Selendang
Setelah panggih, pasangan diikat dengan selendang (sindur) berwarna merah-putih. Orang tua mempelai memakaikan selendang itu di bahu kedua mempelai sambil diiringi doa. Maknanya: ikatan batin yang tak mudah putus, serta kesediaan suami-istri saling menjaga.
Di beberapa daerah, sinduran dipadukan dengan ujaran sesepuh tentang tuntunan rumah tangga. Banyak pasangan yang masih mempertahankan momen ini karena simbolismenya—bukan sekadar foto prewedding, tapi janji hidup bersama.
6. Ngunduh Mantu: Resepsi dengan Tata Krama Jawa
Ngunduh mantu adalah resepsi pernikahan yang digelar di rumah mempelai laki-laki (bisa juga di gedung). Acara ini berlangsung siang hingga malam. Tamu duduk di kursi yang berjajar menyusuri lorong, lalu bersalaman dengan pengantin dan orang tua.
Ada tata cara khas: tamu pria bersalaman dengan pengantin pria duluan, baru dengan wanita dan orang tua. Seserahan atau pemberian untuk mempelai diletakkan di meja khusus. Ngunduh mantu masih menjadi momentum silaturahmi antar keluarga besar, bahkan yang jarang bertemu.
7. Sungkeman: Permohonan Restu dan Hormat pada Orang Tua
Sungkeman adalah ritual paling emosional. Kedua mempelai berlutut di hadapan kedua orang tua, lalu menundukkan kepala dan menyentuh tangan mereka. Prosesi ini bisa berlangsung di awal atau akhir acara. Biasanya diawali oleh pengantin pria yang sungkem pada mertua, lalu kedua mempelai sungkem pada orang tua masing-masing.
Tak jarang, air mata mengalir saat sungkeman. Permohonan restu dan ucapan terima kasih disampaikan dengan bahasa Jawa halus. Hingga kini, sungkeman dianggap sebagai puncak kehormatan seorang anak kepada orang tua.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua prosesi wajib dijalankan?
Tidak. Banyak pasangan memilih hanya beberapa prosesi inti seperti siraman, midodareni, dan panggih. Namun tradisi sungkeman hampir selalu ada karena dianggap sakral.
Berapa lama durasi keseluruhan prosesi adat?
Bervariasi. Mulai dari tiga hari (H-2 siraman, H-1 midodareni, H akad dan resepsi). Ada yang memadatkan dua hari dengan menggabungkan midodareni dan siraman di hari yang sama.
Apakah biaya adat lebih mahal dari pernikahan modern?
Relatif. Biaya tergantung jumlah sesaji, sewa perlengkapan tradisional, dan honor pini sepuh. Tapi banyak keluarga di Jawa Tengah yang menganggap biaya ini sebagai investasi budaya, bukan beban.
Bisa dipadukan dengan konsep outdoor atau indoor?
Bisa. Siraman, akad, hingga panggih bisa diadaptasi di taman atau ruangan tertutup, asal tetap mempertahankan urutan dan filosofi. Beberapa pasangan di Semarang bahkan memadukan adat dengan dekorasi minimalis modern.
Apakah ada perbedaan antara adat Solo dan Yogya?
Secara garis besar mirip. Yang mencolok pada urutan panggih dan pemakaian busana. Gaya Solo menggunakan kebaya kutu baru dan sanggul, sementara Yogya lebih sering memakai kebaya brokat dan sanggul paes.
Prosesi adat Jawa Tengah bukan peninggalan masa lalu. Di tengah pergeseran budaya dan pengaruh media sosial, justru makin banyak pasangan muda yang kembali merujuk pada tradisi. Bukan karena tekanan keluarga, melainkan karena mereka menemukan kedalaman makna dalam setiap langkah. Dan itulah yang membuatnya terus bertahan.