SOLO — Perdebatan soal kecerdasan buatan (AI) yang bakal menggantikan profesi guru akhirnya mendapat jawaban tegas dari forum akademik internasional di Solo. Para peneliti dan akademisi dari Korea Selatan, Iran, Filipina, hingga Indonesia yang tergabung dalam International Conference of Islamic Education (ICIE) 2026 kompak menolak narasi tersebut.
Konferensi yang digelar Sekolah Pascasarjana Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta ini mengusung tema “Transforming Islamic Education in the Age of Artificial Intelligence: Innovation, Ethics, and Global Competitiveness”. Forum hybrid tersebut tidak hanya membahas pemanfaatan AI dalam pembelajaran, tetapi juga menyoroti sisi etika dan nilai-nilai keislaman dalam transformasi digital.
AI Hanya Alat, Bukan Pengganti Sentuhan Guru
Pernyataan paling mencolok datang dari Prof. Dr. Abdul Karim, akademisi Hallym University Korea Selatan. Ia menilai publik kerap salah memahami posisi AI dalam dunia pendidikan.
“AI is a tool, not a teacher. It can assist, but it cannot replace human guidance of spiritual wisdom or moral example. The teacher-student relationship is still one of the most powerful parts of education,” jelas Prof. Abdul Karim dalam sesi keynote-nya.
Menurutnya, teknologi memang mampu mempercepat akses informasi dan membantu aktivitas belajar-mengajar. Namun, keteladanan, empati, dan pembinaan moral yang menjadi tugas seorang pendidik tidak bisa diprogram oleh algoritma.
75 Riset Dipresentasikan, dari Kurikulum hingga Etika AI
Wakil Rektor I IIM Surakarta, Dr. Joko Subando, M.Pd., menjelaskan konferensi ini dirancang sebagai ruang lahirnya kolaborasi riset lintas negara. “We hope to generate innovative ideas that contribute meaningfully to the future of Islamic education,” ungkapnya.
Sebanyak 75 karya ilmiah berhasil lolos seleksi dan dipresentasikan dalam enam panel diskusi paralel. Topik yang dibahas meliputi kurikulum pendidikan Islam di era AI, teknologi pendidikan dan digitalisasi pembelajaran, psikologi pendidikan, inovasi metode pembelajaran, etika pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga kolaborasi pendidikan internasional. Seluruh hasil riset tersebut saat ini dipersiapkan untuk diterbitkan dalam prosiding ilmiah terindeks.
Pemimpin Bijak Teknologi Jadi Kunci Transformasi
Rektor IIM Surakarta, Dr. Edy Muslimin, M.S.I., menekankan bahwa tantangan terbesar lembaga pendidikan saat ini bukan sekadar menguasai teknologi. “Transformasi pendidikan Islam di era kecerdasan artifisial menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya cakap dalam pemanfaatan teknologi, tetapi harus mampu menjaga orientasi pendidikan Islam sebagai proses pembentukan insan yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan tentu berdaya saing global,” tegasnya.
Perspektif internasional lainnya datang dari Qasem Muhammadi, Ph.D., dari University of Qom, Iran. Ia mengulas batasan pemanfaatan AI berdasarkan kajian yurisprudensi Islam. Sementara itu, Lorna M. Yaco, Ph.D., Education Program Specialist II asal Filipina, mendorong institusi pendidikan memperluas kerja sama lintas negara melalui pertukaran ilmu pengetahuan dan penelitian bersama.