Pencarian

STAR di SMPN 3 Wonogiri Ubah Pelajaran IPA, 4 Alat Berbasis Sensor Dorong Siswa Eksperimen Langsung

Jumat, 25 September 2026 • 09:46:02 WIB
STAR di SMPN 3 Wonogiri Ubah Pelajaran IPA, 4 Alat Berbasis Sensor Dorong Siswa Eksperimen Langsung
Kepala SMPN 3 Wonogiri Ais Widayanti menyatakan STAR dirancang agar siswa tidak berhenti pada pemahaman teori.

WONOGIRI — Kepala SMPN 3 Wonogiri, Ais Widayanti, menyebut STAR dirancang agar peserta didik tidak berhenti pada pemahaman teori. Perangkat ini menuntut siswa melakukan eksperimen, mengukur, mengolah data, menganalisis, memecahkan masalah, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.

"STAR bukan sekadar alat praktikum. Kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang membuat peserta didik melakukan eksperimen, mengukur, mengolah data, menganalisis, memecahkan masalah, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti," ujarnya.

Empat Perangkat dengan Fungsi Berbeda

STAR tidak hadir sebagai satu alat tunggal. Tim pengembang membaginya menjadi empat perangkat yang masing-masing menyasar materi IPA berbeda.

  • Digital Timer — mempelajari gerak, kecepatan, dan percepatan lewat sensor gerak.
  • Detektor Gempa Bumi — memakai vibration sensor untuk mempelajari getaran sekaligus mitigasi bencana, dilengkapi sirine dan lampu peringatan.
  • Monitor Suhu IoT — memanfaatkan sensor suhu sehingga hasil pemantauan bisa dilihat melalui telepon seluler.
  • Smart Greenhouse — menggunakan sensor kelembapan tanah dan sensor udara untuk mempelajari hubungan kondisi lingkungan dengan kelembapan tanah.

Berawal dari Angket 406 Siswa

Pengembangan STAR bertumpu pada data, bukan asumsi. Analisis Rapor Pendidikan merekomendasikan penguatan kualitas pembelajaran, terutama penerapan praktik inovatif dan peningkatan kompetensi guru. Kebutuhan itu kemudian diperdalam melalui analisis terhadap peserta didik.

Angket terhadap 406 peserta didik menunjukkan kebutuhan kuat terhadap pembelajaran berbasis praktik dan teknologi. Sebanyak 88 persen siswa membutuhkan praktik dan eksperimen, 86 persen tertarik pada teknologi, 84 persen lebih mudah memahami materi melalui pengalaman langsung, dan 81 persen membutuhkan media pembelajaran yang menarik serta interaktif.

Data itu menjadi dasar pengembangan STAR sebagai media pembelajaran IPA yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Proses Panjang dari Prototipe hingga Evaluasi

Ketua tim inovasi sekaligus guru IPA, Setyaningsih Wara Kusdari, menjelaskan penggunaan perangkat diarahkan agar peserta didik terbiasa menghubungkan teori dengan kondisi yang bisa mereka amati secara langsung.

Pengembangan STAR tidak dilakukan secara instan. Tahapannya dimulai dari identifikasi masalah, analisis kebutuhan, perencanaan, pembuatan prototipe, workshop STEM dan Arduino bagi guru, uji coba, implementasi, evaluasi, hingga pengembangan berkelanjutan.

Kompetensi Guru hingga Bernalar Kritis Ikut Naik

Hasil penerapan STAR terlihat dari sejumlah indikator pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis praktik dan eksperimen meningkat dari 65,8 persen sebelum inovasi menjadi 88,6 persen setelah STAR diterapkan.

Kompetensi guru dalam merancang pembelajaran berbasis STEM naik dari 40 persen menjadi 90 persen. Kemampuan peserta didik dalam melakukan pengukuran dan bernalar kritis selama kegiatan eksperimen juga meningkat dari 2,43 poin menjadi 3,49 poin.

Dampaknya tercatat dalam Rapor Pendidikan Tahun 2025. Capaian kualitas pembelajaran pada aspek penerapan praktik inovatif tercatat 8,09, sedangkan karakter bernalar kritis mencapai 10,33.

Tiga Siswa Raih Juara Harapan 2 Tingkat Nasional

Efek pembelajaran berbasis eksperimen tidak berhenti di ruang kelas. Tiga peserta didik berhasil meraih Juara Harapan 2 tingkat nasional dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN).

Mereka mengangkat penelitian mengenai sistem peringatan dini kualitas udara berbasis mikrokontroler. Capaian itu menjadi bagian dari rangkaian perkembangan yang muncul dari budaya belajar berbasis eksperimen dan teknologi.

Melalui STAR, pembelajaran IPA diarahkan agar peserta didik tidak hanya menghafal konsep. Mereka diajak berhadapan dengan data, melakukan pengukuran, menguji hasil, menemukan persoalan, kemudian menyusun solusi berdasarkan temuan yang diperoleh.

Mikrokontroler dan sensor pun digunakan sebagai alat untuk membantu peserta didik memahami konsep IPA melalui pengalaman langsung, bukan sekadar perangkat tambahan di ruang kelas.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglosemarnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks