SLAWI — Kabupaten Tegal punya sajian kuliner yang mengenyangkan sekaligus kaya rasa. Kupat Glabed, hidangan berbahan dasar ketupat dengan siraman kuah khas bertekstur kental, menjadi salah satu warisan rasa yang masih bertahan dan mudah ditemukan.
Berbeda dari sajian ketupat pada umumnya, ciri utama Kupat Glabed justru terletak pada kuahnya. Tekstur kental dengan cita rasa gurih membuat hidangan ini punya identitas sendiri di lidah para penikmatnya.
Kuah Kental Jadi Ciri Khas yang Membedakan
Ketupat yang digunakan sebagai bahan utama tidak disajikan begitu saja. Setelah dipotong, ketupat disiram kuah glabed yang sudah disiapkan khusus. Kuah inilah yang kemudian menjadi penentu cita rasa.
Perpaduan antara ketupat dan kuah kental itu biasanya diperkaya dengan tambahan lauk serta pelengkap lainnya. Kombinasi tersebut menghasilkan harmoni rasa yang sulit ditemukan di menu ketupat dari daerah lain.
Buka dari Pagi hingga Malam, Cocok untuk Semua Waktu Makan
Satu porsi Kupat Glabed bisa disantap kapan saja. Hidangan ini dinilai cocok sebagai menu sarapan, makan siang, maupun makan malam karena sifatnya yang mengenyangkan.
Di Jalan Prof. Moh. Yamin, Kudaile, Kecamatan Slawi, para perantau dan wisatawan yang melintas bisa dengan mudah menyinggahi tempat penjualannya. Warung tersebut diperkirakan mulai beroperasi pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Harga Terjangkau, Porsi Mengenyangkan
Dengan rentang harga Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per porsi, Kupat Glabed menjadi pilihan kuliner yang ramah di kantong. Bandingkan dengan menu kekinian yang harganya bisa dua kali lipat, sajian tradisional ini tetap kompetitif.
Keberadaan Kupat Glabed bukan sekadar soal mengisi perut. Hidangan ini menjadi duta rasa yang memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional Tegal kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus menjaga resep turun-temurun agar tidak punah.
Bagi yang penasaran dengan cita rasa autentik khas Pantura, mencicipi semangkuk Kupat Glabed hangat di Slawi bisa menjadi awal yang tepat untuk mengenal kuliner Tegal lebih dalam.