Pencarian

Kirab Ruwat Rawat Menoreh di Magelang Tampilkan Miniatur UFO dan Gunungan Hasil Bumi, 10 Kontingen Ikut Meriahkan

Rabu, 26 Agustus 2026 • 09:16:01 WIB
Kirab Ruwat Rawat Menoreh di Magelang Tampilkan Miniatur UFO dan Gunungan Hasil Bumi, 10 Kontingen Ikut Meriahkan
Warga memadati rute kirab sepanjang tiga kilometer di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, untuk menyaksikan Kirab Ruwat Rawat Menoreh, Minggu (23/8/2026).

MAGELANGRibuan warga memadati rute kirab sepanjang tiga kilometer yang menanjak dan berliku di Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Minggu (23/8/2026). Mereka menyaksikan pawai budaya yang bukan hanya menampilkan kesenian tradisional, tetapi juga membawa nuansa futuristik dengan kehadiran miniatur UFO dan peserta berkostum astronot.

Miniatur UFO tersebut bukan sekadar hiasan. Benda itu menjadi representasi potensi wisata Desa Ngargoretno yang tengah dikembangkan pemerintah desa untuk menarik wisatawan ke kawasan Pegunungan Menoreh.

Gunungan Hasil Bumi Jadi Rebutan Warga

Puncak kemeriahan terjadi saat puluhan gunungan berisi aneka sayuran seperti terong, wortel, loncang, kol, sawi, kacang panjang, dan cabai mulai digerebeg. Warga yang sudah menunggu di sepanjang jalan langsung berebut hasil bumi tersebut.

Kepala Desa Ngargoretno, Dodit Suseno, mengatakan Ruwat Rawat Menoreh merupakan momentum penguatan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam. Kegiatan ini juga menjadi sarana merawat nilai budaya dan menggerakkan potensi ekonomi warga.

"Warga secara sukarela mengumpulkan dana untuk menyukseskan acara ini. Desa hanya membantu semampunya," katanya kepada wartawan di sela acara.

Rangkaian Acara Tiga Hari dan Makna Filosofis

Ruwat Rawat Menoreh tahun ini digelar selama tiga hari, sejak Jumat (21/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026). Beragam kegiatan diisi dalam perayaan tersebut, mulai dari pentas kesenian warga, mujahadah, hingga pagelaran wayang kulit yang menjadi penutup rangkaian acara.

Tokoh masyarakat Ngargoretno, Shoim, menjelaskan tradisi merti desa ini memiliki makna mendalam bagi warga. Kegiatan tersebut menggambarkan hubungan erat antara manusia dan alam di kawasan Menoreh.

"Artinya untuk menerjemahkan hubungan manusia dengan alam," ujarnya.

Harapan Pelestarian Alam Menoreh

Dodit berharap tradisi tahunan ini mampu mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal. Lebih dari itu, ia ingin kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi semua pihak untuk menjaga alam Menoreh.

Menurutnya, kelestarian Pegunungan Menoreh harus dijaga agar tetap hijau dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Melalui kirab budaya ini, pesan tersebut disampaikan dengan cara yang meriah dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglojateng.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks