JAWA TENGAH — Ketergantungan pada mesin pompa BBM selama ini menjadi momok bagi petani jagung di Torout. Selain biaya operasional yang membengkak, pasokan air kerap terhambat saat musim kemarau tiba, mengganggu jadwal tanam dan berujung pada fluktuasi hasil panen.
PLN menjawab persoalan itu dengan menghadirkan ekosistem irigasi listrik terpadu. Lewat payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan membangun fasilitas pengeboran hingga jaringan distribusi air yang siap digunakan petani.
Dukungan Infrastruktur dari Hulu ke Hilir
Bantuan yang diserahkan mencakup empat unit sumur bor yang masing-masing dilengkapi instalasi air dan pompa listrik berdaya 3.500 VA. Seluruh sambungan baru ini telah mengantongi Nomor Identitas Instalasi Tenaga Listrik (NIDI) dan Sertifikat Laik Operasi (SLO) untuk menjamin keamanan.
Di sisi distribusi, PLN turut menyediakan 20 tandon air berkapasitas 3.500 liter yang dipasang di atas menara setinggi dua meter. Air dari tandon dialirkan ke petak lahan melalui 1.400 meter selang High Density Polyethylene (HDPE) berukuran satu inci yang dirancang tahan terhadap cuaca ekstrem.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menegaskan bahwa elektrifikasi sektor pertanian merupakan langkah strategis perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
"Peran kami tidak hanya sebatas menghadirkan terang listrik di rumah-rumah warga. Lebih dari itu, listrik harus menjadi motor penggerak roda perekonomian, pemantik kesejahteraan, dan solusi atas tantangan nyata masyarakat," ujar Usman.
Efisiensi Biaya dan Dampak Ekonomi
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Suluttenggo, Noven Koropit, memaparkan kalkulasi keuntungan dari sistem irigasi baru ini. Dengan pasokan air yang stabil dari pompa listrik, petani bisa menghemat pengeluaran energi secara signifikan.
"Para petani dapat menghemat biaya energi hingga lebih dari 50 persen dibandingkan menggunakan mesin pompa BBM. Penghematan ini memungkinkan pengolahan lahan dilakukan tepat waktu dan proses tanam dapat dilaksanakan secara serempak," jelas Noven.
Efisiensi di tingkat petani ini berkorelasi dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-8 tentang pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak. Produksi jagung dan palawija di kawasan Torout diharapkan melonjak, membuka lapangan kerja baru di pedesaan, serta memperkuat stok pangan regional di tengah ketidakpastian iklim.
Pesan Keberlanjutan
Di akhir rangkaian penyerahan bantuan, Noven menitipkan pesan agar seluruh sarana prasarana yang telah diberikan dikelola secara gotong royong. Perawatan berkala menjadi kunci agar manfaat irigasi listrik ini bisa dinikmati dalam jangka panjang.
"Bantuan yang diserahkan hari ini sepenuhnya adalah amanah. Kami menitipkan seluruh sarana dan prasarana pengairan ini untuk dijaga, dirawat, dan dikelola secara gotong royong dengan penuh tanggung jawab," pungkasnya.
Inisiatif ini menjadi bagian dari program Electrifying Agriculture yang dijalankan PLN secara nasional untuk mendorong modernisasi pertanian Indonesia, sejalan dengan upaya pemerintah menekan emisi karbon dari sektor agrikultur.