JAWA TENGAH — PT Pelindo Solusi Maritim (PSM) melatih 30 operator dan teknisi untuk mengoperasikan 16 alat bongkar muat yang telah dimodifikasi menjadi berbasis listrik. Pelatihan tiga hari di Corporate University Pelindo, Ciawi, Jawa Barat, itu menjadi bagian dari inisiatif Green Port untuk menekan emisi di lingkungan pelabuhan.
Jakarta. Peserta pelatihan berasal dari enam cabang di wilayah Regional 2, mencakup operator lapangan, teknisi, hingga jajaran manajerial departemen teknik dan operasi. Materi yang diajarkan meliputi pengoperasian sekaligus pemeliharaan armada bongkar muat bertenaga listrik yang sudah beroperasi di sejumlah terminal.
PSM menangani elektrifikasi empat jenis alat berat pelabuhan: Gantry Jib Crane (GJC), Gantry Luffing Crane (GLC), Fix Jib Crane (FJC), dan Rail Mounted Gantry Crane (RMGC). Keempatnya merupakan perangkat utama dalam bongkar muat peti kemas dan kargo curah.
Mengapa Alat Bongkar Muat Harus Beralih ke Listrik
Alat bongkar muat konvensional berbahan bakar diesel menyumbang emisi karbon dan polusi udara yang cukup besar di area terminal. Menggantinya dengan versi listrik memangkas konsumsi solar sekaligus menurunkan biaya operasional harian.
Direktur Operasi dan Komersial PSM, Nurhadi, menyebut pelatihan ini sebagai langkah strategis untuk memastikan kesiapan operator dan teknisi mengelola teknologi baru. Menurutnya, alat berbasis listrik dinilai lebih ramah lingkungan, efisien, andal, dan berstandar tinggi.
"Pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi SDM guna memastikan kesiapan para operator dan teknisi. Yakni dalam mengelola teknologi alat bongkar muat berbasis elektrik yang lebih ramah lingkungan, efisien, andal, dan berstandar tinggi," ujar Nurhadi lewat keterangannya, Sabtu (26/9).
Ia berharap penggunaan alat bongkar muat listrik bisa diperluas ke cabang-cabang lain. Elektrifikasi, kata Nurhadi, tidak hanya mendorong efisiensi operasional tetapi juga memperkuat posisi PSM dalam mewujudkan operasional pelabuhan yang lebih bersih.
Bagian dari Fondasi Bisnis Berkelanjutan
Sekretaris Perusahaan PSM, Moch. Ilhamsyah, menempatkan elektrifikasi sebagai bagian dari transformasi menuju bisnis maritim berkelanjutan. Baginya, peralihan teknologi ini bukan sekadar penggantian mesin, melainkan fondasi jangka panjang bagi pertumbuhan perusahaan.
"Kami optimistis inisiatif dan inovasi strategis ini, PSM dapat terus memperluas cakupan bisnisnya dan menjadi motor penggerak bagi Pelindo. Yaitu dalam mewujudkan visi sebagai pemimpin ekosistem maritim yang terintegrasi dan berkelas dunia," kata Ilhamsyah.
PSM berada di bawah pengelolaan PT Pelindo Jasa Maritim. Program elektrifikasi alat bongkar muat menjadi salah satu pilar pendukung terwujudnya Green Port dan Blue Economy yang berkelanjutan di lingkungan Pelindo.
Dampak ke Operasional Pelabuhan
Bagi pelabuhan, konversi alat bongkar muat ke listrik berpotensi menekan waktu henti mesin karena perawatan perangkat elektrik relatif lebih sederhana dibanding mesin diesel. Emisi gas buang di area dermaga juga berkurang, sejalan dengan target pemerintah menurunkan intensitas karbon di sektor transportasi dan logistik.
Pelatihan di Ciawi menjadi tahap awal sebelum perluasan ke cabang lain. Keberhasilan program ini akan bergantung pada kesiapan infrastruktur pengisian daya di tiap terminal dan kemampuan teknisi merawat perangkat listrik secara mandiri.
Langkah PSM melengkapi upaya Pelindo mendorong standar operasional pelabuhan yang lebih hijau, seiring meningkatnya tuntutan pelanggan dan mitra global terhadap praktik logistik rendah emisi.