KAB SEMARANG — Limbah dapur berupa sisa sayuran dan buah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan sampah, kini mulai dilirik sebagai bahan baku pupuk organik oleh warga Kelurahan Pojoksari. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 17 mengenalkan komposter sebagai solusi pengolahan limbah rumah tangga di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber.
Program yang berlangsung Senin (10/8/2026) ini tidak hanya berhenti pada teori. Mahasiswa memperagakan langsung cara menggunakan komposter sebagai wadah penguraian limbah organik. Pupuk cair maupun padat yang dihasilkan dari proses tersebut diarahkan untuk menyuburkan tanaman pangan dan TOGA di pekarangan rumah warga.
Pemisahan Sampah Organik dan Anorganik Jadi Kunci
Sebelum masuk ke tahap pengomposan, warga terlebih dahulu diedukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik. Langkah ini dinilai penting karena pencampuran jenis sampah kerap menjadi penghambat utama pengolahan limbah di tingkat rumah tangga.
Fatimah, kader PKK Kelurahan Pojoksari, menilai kehadiran program ini membantu warga melihat nilai ekonomis dari sampah dapur. Menurutnya, limbah yang biasa dibuang begitu saja kini bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan bercocok tanam.
“Dengan adanya pengolahan sampah dapur melalui komposter, limbah rumah tangga yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk untuk tanaman. Kegiatan ini juga membantu masyarakat lebih peduli terhadap pengelolaan sampah dari rumah,” ujar Fatimah.
Dukungan untuk Ketahanan Pangan dan TOGA
Sekretaris Kelurahan Pojoksari, Rista Anista Katriana, menilai inovasi ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Ia berharap praktik serupa dapat ditiru oleh RT dan RW lain di wilayahnya.
“Inovasi ini diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan, khususnya untuk tanaman TOGA dan mendukung ketahanan pangan. Kami juga berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi RT dan RW lainnya di Kelurahan Pojoksari,” ujarnya.
Keberlanjutan Program Setelah KKN Berakhir
Mahasiswa KKN UPGRIS berharap keterampilan yang diberikan tidak berhenti setelah masa pengabdian mereka usai. Komposter yang telah diperkenalkan diharapkan terus digunakan warga secara mandiri untuk mengolah limbah dapur sehari-hari.
Jika praktik ini berjalan konsisten, dampaknya tidak hanya dirasakan pada skala lingkungan rumah, tetapi juga berkontribusi mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lingkungan yang lebih bersih dan lahan yang lebih subur menjadi target jangka panjang dari program pengolahan limbah dapur ini.