JAWA TENGAH — Premier League 2025-26 akan segera bergulir dengan tiga wajah baru yang punya cerita berbeda. Coventry City kembali ke kasta tertinggi setelah 25 tahun penantian panjang, Hull City lolos lewat drama play-off yang menegangkan, dan Ipswich Town yang musim lalu nyaris terdegradasi kini harus membuktikan diri di level tertinggi.
Coventry: 25 Tahun Penantian dan 97 Gol yang Menjanjikan
Perjalanan Coventry kembali ke Premier League adalah kisah kebangkitan yang luar biasa. Klub ini pernah mengalami kehancuran finansial, harus berbagi stadion di Northampton dan Birmingham, bahkan sempat terpuruk ke League Two. Kini, setelah seperempat abad, mereka akhirnya menuntaskan kisah comeback tersebut dengan status juara Championship.
Keberhasilan ini bukan kebetulan. Coventry menutup musim dengan 97 gol, jumlah tertinggi keempat dalam sejarah Championship 46 pertandingan. Mereka juga menjadi tim paling tangguh di lini belakang dengan hanya kebobolan 45 gol. Yang menarik, ketajaman mereka tidak bergantung pada satu pemain saja—tujuh pemain mencetak minimal tujuh gol di liga.
Gaya Main Frank Lampard yang Berisiko di Premier League
Frank Lampard mewarisi tim yang sudah terbentuk dengan baik, bukan skuad yang dibangun dari nol. Belanja bersih musim panas lalu hanya sekitar £3,5 juta, dan kini prioritas utama adalah mempertahankan pemain kunci seperti Jack Rudoni dan Milan van Ewijk yang diminati klub-klub papan atas.
Tantangan terbesar Lampard adalah mengadaptasi gaya menyerang langsung yang mendominasi Championship menjadi strategi yang bisa bertahan hidup di Premier League. Pendekatan berani dengan umpan-umpan vertikal akan jauh lebih berisiko saat menghadapi tim dengan kecepatan dan kecerdasan taktik yang lebih tinggi. Haji Wright dengan kecepatannya akan menjadi aset berharga, sementara Ellis Simms yang tajam di kotak penalti membutuhkan pasokan bola yang konsisten.
Hull: Keberuntungan yang Tak Bisa Diandalkan Lagi
Kebangkitan Hull musim lalu hampir mustahil dipercaya. Mereka nyaris terdegradasi ke League One dua musim lalu, memulai musim 2025-26 dengan sanksi transfer, dan baru memastikan promosi lewat gol kemenangan di masa injury time pada final play-off. Statistik menunjukkan mereka seharusnya finis kedua dari bawah jika dilihat dari expected goals.
Masalah terbesar Hull jelas di lini pertahanan. Mereka kebobolan 66 gol, rekor terburuk keempat di Championship. Sebagai perbandingan, Southampton yang promosi dengan 63 kebobolan pada 2023-24 justru finis dasar klasemen Premier League dengan hanya 12 poin. Lebih mengkhawatirkan lagi, lawan gagal mengonversi 10 peluang emas dengan probabilitas mencetak gol di atas 50 persen—jumlah terbanyak di liga.
Catatan Positif Hull: Taktik Fleksibel Jakirovic
Namun ada secercah harapan. Hull tampil solid saat bertandang ke markas tim-tim papan atas, hanya kebobolan delapan gol dalam pertandingan melawan tim peringkat 10 besar. Mereka juga tidak kebobolan dalam dua pertemuan melawan Coventry dan sepanjang babak play-off.
Pelatih Sergej Jakirovic menunjukkan kecerdasan taktik yang mengesankan. Saat melawan Millwall di leg kedua play-off, ia mengubah formasi dari 4-2-3-1 menjadi tiga bek dengan wing-back, sebuah kejutan yang berbuah kemenangan 2-0. Kemampuan beradaptasi seperti ini akan menjadi kunci utama Hull dalam menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih kuat di Premier League.
Ketiga tim promosi ini membawa harapan dan keraguan masing-masing. Coventry punya fondasi solid dan daya gedor tinggi, Hull mengandalkan fleksibilitas taktik, sementara Ipswich masih menjadi tanda tanya besar. Satu hal yang pasti: musim Premier League 2025-26 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mereka semua.