Pencarian

Ibu Tertua di India Melahirkan Bayi Kembar Usia 74 Tahun

Rabu, 30 September 2026 • 12:19:31 WIB
Ibu Tertua di India Melahirkan Bayi Kembar Usia 74 Tahun
Erramatti Mangayamma melahirkan bayi kembar perempuan melalui operasi caesar pada 5 September 2019 di usia sekitar 74 tahun.

JAWA TENGAH — Erramatti Mangayamma, perempuan asal Andhra Pradesh, India, melahirkan bayi kembar perempuan lewat operasi caesar pada 5 September 2019 di usia sekitar 74 tahun. Kehamilannya terjadi lewat program bayi tabung dengan sel telur donor setelah puluhan tahun menanti keturunan. Berikut penjelasan medis di baliknya dan risiko yang perlu ibu pahami.

Mangayamma menikah dengan Yerramatti Raja Rao pada 1962. Selama puluhan tahun, pasangan ini menginginkan anak tetapi belum juga dikaruniai keturunan.

Keduanya kemudian menjalani prosedur in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. Karena Mangayamma sudah menopause, dokter tidak memakai sel telurnya sendiri.

Bagaimana Proses Bayi Tabung Itu Berjalan

Sel telur dalam prosedur ini berasal dari donor. Sel telur tersebut dibuahi menggunakan sperma suami di laboratorium, lalu berkembang menjadi embrio.

Embrio yang terbentuk kemudian ditanamkan ke dalam rahim Mangayamma. Kehamilan pun berhasil, dan ia mengandung bayi kembar.

Pada 5 September 2019, Mangayamma melahirkan dua bayi perempuan melalui operasi caesar. Laporan The Indian Express menyebut ibu dan kedua bayinya berada dalam kondisi stabil setelah persalinan.

Mengapa Menopause Bukan Akhir dari Kemungkinan Hamil

Menopause memang menandai berakhirnya fungsi reproduksi ovarium. Setelah menopause, ovarium tidak lagi melepaskan sel telur secara rutin, sehingga kehamilan alami tidak lagi mungkin terjadi.

Namun, rahim tidak otomatis kehilangan kemampuan untuk mengandung. Inilah yang membuat teknologi IVF dengan donor sel telur bisa digunakan pada kondisi tertentu.

American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menjelaskan bahwa donor sel telur atau embrio merupakan salah satu metode reproduksi berbantu untuk perempuan dengan infertilitas berkaitan dengan usia. Kehamilan setelah menopause secara biologis dapat dimungkinkan ketika rahim masih mampu mendukung kehamilan, dengan bantuan terapi hormonal dan donor oosit.

Jadi, Mangayamma tidak kembali menghasilkan sel telur setelah menopause. Kehamilannya terjadi berkat bantuan sel telur donor.

Peluang Keberhasilan IVF di Usia Sangat Lanjut

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Reproductive BioMedicine Online pada 2024 menganalisis 1.226 siklus transfer embrio dari 745 perempuan berusia 45 tahun ke atas yang memakai sel telur donor.

Peneliti menemukan angka live birth yang relatif stabil di berbagai kelompok usia dalam penelitian tersebut. Studi itu juga menekankan pentingnya transfer satu embrio untuk mengurangi risiko kehamilan kembar.

Temuan ini menunjukkan usia yang sangat lanjut tidak otomatis membuat IVF dengan sel telur donor mustahil. Namun, berhasil hamil tidak berarti kehamilan tersebut bebas risiko.

Risiko Kehamilan di Usia 74 Tahun

Kehamilan pada usia lanjut memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia muda. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) bersama Society for Maternal-Fetal Medicine mencatat risiko ini meningkat seiring bertambahnya usia ibu.

Beberapa kondisi yang lebih sering ditemukan antara lain:

  • Diabetes gestasional
  • Preeklamsia
  • Tekanan darah tinggi
  • Persalinan prematur
  • Persalinan melalui operasi caesar
  • Bayi dengan berat lahir rendah
  • Risiko lahir mati yang meningkat pada usia tertentu

Risiko ini tidak berhenti di angka usia 35 tahun. ACOG menyebut risiko dapat terus meningkat seiring pertambahan usia dan menjadi lebih nyata pada kelompok usia di atas 40 tahun.

Kehamilan Kembar Butuh Perhatian Lebih

Pada kasus Mangayamma, kehamilan terjadi bukan hanya di usia yang sangat lanjut, tetapi juga kembar. Kehamilan kembar membawa risiko tambahan, baik bagi ibu maupun bayi.

Karena itu, pemantauan medis ketat sejak awal kehamilan menjadi kunci. Pemeriksaan rutin, kontrol tekanan darah, dan pemantauan tumbuh kembang janin perlu dijalani secara disiplin.

Kapan Perlu Berhati-hati dan Konsultasi ke Dokter

Ibu yang menjalani kehamilan di usia lanjut, terutama lewat program reproduksi berbantu, sebaiknya segera berkonsultasi bila mengalami tanda bahaya. Beberapa di antaranya pendarahan, nyeri perut hebat, tekanan darah tinggi, pembengkakan mendadak di kaki dan tangan, serta gerakan janin yang berkurang.

Diskusikan juga dengan dokter kandungan sebelum memutuskan program kehamilan di usia lanjut. Setiap tubuh punya kondisi berbeda, sehingga penilaian medis menyeluruh tetap diperlukan.

Kisah Mangayamma menunjukkan teknologi reproduksi berbantu bisa membuka peluang kehamilan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Meski begitu, kehamilan di usia sangat lanjut tetap membawa risiko besar yang perlu dipahami sejak awal, bukan hanya soal berhasil atau tidaknya hamil.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks