JAWA TENGAH — Proyeksi tersebut disusun BPS dengan mengasumsikan profil ekonomi per kapita—meliputi pendapatan tenaga kerja, konsumsi, dan mekanisme transfer—tetap sama seperti 2024, sementara struktur umur penduduk disesuaikan dengan proyeksi penduduk 2045. Hasilnya, kebutuhan pembiayaan konsumsi lansia dipastikan membengkak seiring bertambahnya jumlah mereka secara signifikan.
Angka defisit ini menggambarkan selisih antara nilai konsumsi lansia dengan pendapatan yang mereka peroleh dari aktivitas bekerja. Pada 2024 saja, konsumsi kelompok usia 60 tahun ke atas telah melampaui pendapatan mereka hingga Rp 645,7 triliun.
Pensiun dan Aset Jadi Penopang Utama di Usia Senja
Defisit siklus hidup lansia selama ini ditutup melalui dua kanal utama. Pertama, realokasi berbasis aset, seperti pemanfaatan tabungan, hasil investasi, hingga penjualan aset yang diakumulasi selama masa produktif. Kedua, transfer publik, termasuk pembayaran pensiun dan berbagai program perlindungan sosial dari pemerintah.
Dengan defisit yang diproyeksikan mencapai Rp 1.426,4 triliun pada 2045, beban pembiayaan ini akan semakin berat. Penguatan sistem perlindungan sosial, perluasan cakupan pensiun, serta peningkatan akumulasi aset selama usia produktif menjadi prasyarat mutlak agar kesejahteraan lansia tetap terjaga.
Masih Banyak Lansia Justru Menopang Ekonomi Keluarga
Meski secara agregat mengalami defisit, data NTA menunjukkan lansia Indonesia tidak sepenuhnya menjadi penerima transfer. Sebagian dari mereka justru berperan sebagai pemberi transfer bersih kepada keluarga, dengan nilai bersih mencapai sekitar Rp 39 triliun pada 2024.
Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi Rp 86,9 triliun pada 2045. Kondisi ini mengindikasikan banyak lansia yang masih menanggung kebutuhan anggota keluarga, seperti membiayai anak yang bersekolah, membantu anak yang belum memperoleh pekerjaan, atau menopang kebutuhan ekonomi rumah tangga.
Fondasi Gizi dan Koperasi Jadi Kunci Lansia Produktif
Pemerintah sendiri telah menyiapkan dua program strategis yang saling melengkapi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, agar menghasilkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif.
Di sisi lain, penguatan kelembagaan koperasi diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui peningkatan akses pembiayaan, pemberdayaan usaha produktif, serta penciptaan lapangan kerja. Kedua program ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas manusia sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh kualitas generasi muda penerima bonus demografi, tetapi juga kemampuan negara dalam menghadapi transisi menuju masyarakat menua. Jika didukung kesehatan yang baik, peningkatan keterampilan, dan kesempatan kerja yang inklusif, lansia dapat menjadi modal manusia yang tetap produktif dan tidak sekadar menjadi beban ketergantungan.