SEMARANG — SMAN 2 Semarang ditetapkan sebagai sekolah induk, didampingi tiga sekolah mitra, yakni SMAN 3 Brebes, SMAN 1 Kemusu Boyolali, dan SMAN 1 Gebog Kudus. Penunjukan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperluas akses pendidikan menengah di Jawa Tengah.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, mengungkapkan bahwa sosialisasi dan validasi data calon peserta telah dimulai di masing-masing sekolah. Namun, ia mengakui jumlah pendaftar hingga saat ini belum memenuhi target tiga rombongan belajar.
“Setelah ada petunjuk dari pemerintah pusat, sekolah melakukan sosialisasi dan validasi data peserta. Namun hingga sekarang jumlah peserta yang mendaftar masih belum memenuhi target tiga rombongan belajar,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (1/8/2026).
Sasaran Peserta dan Syarat Administrasi
Program ini dirancang khusus bagi remaja berusia 16 hingga 18 tahun yang tercatat putus sekolah atau belum pernah melanjutkan ke jenjang SMA. Calon peserta wajib berdomisili di Jawa Tengah dan memiliki ijazah jenjang pendidikan sebelumnya.
Seluruh biaya pembelajaran ditanggung penuh oleh pemerintah. Tidak ada pungutan yang dibebankan kepada peserta didik selama mengikuti program hingga selesai.
Pola Belajar: 30 Persen Virtual, 70 Persen Mandiri
Sistem pembelajaran yang diterapkan memadukan dua metode. Sebanyak 30 persen proses belajar mengajar dilakukan secara sinkron atau tatap muka virtual bersama guru, sementara 70 persen sisanya menggunakan pembelajaran asinkron melalui platform daring.
Skema ini dipilih agar fleksibel bagi peserta yang mungkin memiliki keterbatasan waktu atau akses. Materi dapat diakses secara mandiri sesuai jadwal yang tersedia di platform digital.
Mengapa Program Ini Penting bagi Jateng?
Angka ATS di Jawa Tengah yang mencapai 335.117 anak menjadi dasar utama peluncuran program ini. Sadimin menegaskan bahwa PJJ merupakan salah satu solusi strategis untuk menekan angka anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan formal.
“PJJ menjadi salah satu solusi penanganan ATS di Jawa Tengah. Harapannya program ini dapat membantu menekan jumlah anak yang belum mendapatkan akses pendidikan,” katanya.
Semangat Pemerataan Akses di SMA Induk
Kepala SMAN 2 Semarang, Dian Milasari, menyebut kepercayaan sebagai sekolah induk adalah bentuk komitmen terhadap pemerataan pendidikan. Pihaknya menyiapkan perangkat pembelajaran dan sistem administrasi untuk mendukung kelancaran program.
“Program ini memang ditujukan bagi anak tidak sekolah atau ATS berusia 16 sampai 18 tahun yang terdata putus sekolah maupun belum melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Dengan skema ini, pemerintah berharap hambatan geografis dan ekonomi yang kerap menjadi penyebab anak berhenti sekolah bisa diminimalkan. Kehadiran sekolah mitra di tiga kabupaten diharapkan memperluas jangkauan pendaftaran hingga ke daerah-daerah penyangga.