JAWA TENGAH — Dalam sebuah wawancara di Dwarkesh Podcast, Elon Musk secara blak-blakan menyampaikan kekhawatirannya terhadap masa depan fiskal AS. Menurutnya, tanpa terobosan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika, negara adidaya itu akan kolaps.
"Kita 1.000% akan bangkrut sebagai sebuah negara dan gagal sebagai sebuah bangsa, tanpa keberadaan AI dan robotika," tegas miliarder terkaya sejagat tersebut, seperti dikutip dari pernyataannya awal tahun lalu.
Bunga Utang Lebih Besar dari Anggaran Pertahanan
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan defisit anggaran telah mencapai USD 1,37 triliun hanya dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026. Kondisi ini diperparah oleh beban pembayaran bunga utang yang tahun ini diperkirakan menembus USD 1 triliun, melampaui total anggaran pertahanan AS.
Musk menyoroti ironi fiskal ini. Negara harus meminjam uang baru hanya untuk membayar bunga dari pinjaman lama, sebuah kondisi yang oleh pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, disebut sebagai fenomena Debt Death Spiral atau pusaran kematian utang.
Beban Perang Iran dan Dampak ke Generasi Mendatang
Pembengkakan utang juga dipicu oleh pengeluaran militer yang masif. Estimasi menunjukkan biaya keterlibatan militer AS dalam krisis perang Iran telah menelan biaya langsung sebesar USD 37,5 miliar. Proyeksi total dampak biaya dari konflik tersebut bahkan mencapai USD 1,5 triliun.
Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, menegaskan bahwa beban bunga utang dari pembiayaan perang ini secara langsung akan dilimpahkan sebagai beban fiskal bagi generasi mendatang. "Tidak ada hal lain yang bisa menyelesaikan utang nasional ini," ungkap Elon Musk, menekankan bahwa hanya inovasi teknologi yang mampu menciptakan efisiensi ekonomi untuk keluar dari jebakan utang.
Peringatan ini menjadi sinyal bagi investor global untuk mencermati risiko fiskal negara maju, terutama terkait keberlanjutan utang AS yang selama ini menjadi acuan aset bebas risiko di pasar keuangan dunia.