Pencarian

Gen Z Makin Skeptis AI, Midjourney Malah Beli Aplikasi Astrologi Co-Star

Sabtu, 25 Juli 2026 • 09:04:01 WIB
Gen Z Makin Skeptis AI, Midjourney Malah Beli Aplikasi Astrologi Co-Star

JAWA TENGAH — Akuisisi ini diumumkan langsung oleh Midjourney melalui akun media sosialnya. Co-Star, aplikasi astrologi yang mengklaim telah menembus 35 persen populasi anak muda di AS dengan puluhan juta unduhan, akan tetap beroperasi secara independen. Namun, seluruh sumber daya finansial dan teknis Midjourney kini tersedia untuk pengembangan aplikasi tersebut.

Mengapa Midjourney Beli Aplikasi Ramalan?

Dalam unggahan di X, Banu Guler menjelaskan bahwa akuisisi ini merupakan perpanjangan alami dari persahabatannya dengan pendiri Midjourney, David Holz. Keduanya percaya "komputer dapat menjadi alat yang mengungkapkan kemanusiaan kita kepada diri kita sendiri – alat yang menunjukkan apa yang kamu maksud, bagaimana perasaanmu, apa yang kamu bayangkan, sebelum kamu bisa mengartikulasikannya sendiri."

Pernyataan itu terasa cocok dengan sifat introspektif aplikasi astrologi. Namun, sulit menyelaraskannya dengan model bisnis utama Midjourney yang selama ini menjual alat generator gambar dan video berbasis AI. Langkah ini menjadi lebih masuk akal jika dilihat dari ambisi ekspansi Midjourney. Pada Juni 2026, perusahaan mengumumkan pengembangan full-body ultrasonic scanner dan membentuk divisi baru bernama Midjourney Health.

Apa Kata Data? Gen Z Kian Skeptis terhadap AI

Ironisnya, demografi paling setia Co-Star justru menunjukkan sikap semakin dingin terhadap teknologi AI. Survei Gallup April 2026 mengungkap bahwa persentase Gen Z (usia 14-29 tahun) yang merasa "excited" terhadap AI turun 14 poin persen menjadi hanya 22 persen. Rasa "hopeful" juga merosot sembilan poin menjadi 18 persen, sementara kemarahan terhadap AI meningkat sembilan poin menjadi 31 persen.

Bagi pengguna muda Co-Star yang mungkin tidak menyukai AI, akuisisi ini bisa menjadi bumerang. "Generasi Z terus menggunakan AI generatif secara rutin, tetapi perasaan positif mereka menurun drastis," tulis laporan Gallup. Ini menjadi tantangan terbesar Midjourney: meyakinkan basis pengguna astrologi bahwa sentuhan AI tidak akan merusak pengalaman personal ramalan bintang mereka.

Nasib Co-Star Setelah Diakuisisi

Guler menegaskan aplikasi Co-Star akan tetap berada di bawah kendalinya sendiri. "Akuisisi ini memberi kami sumber daya untuk berkembang lebih jauh tanpa mengubah DNA produk," tulisnya. Ia juga akan merangkap sebagai Chief Design Officer di Midjourney, mengawasi arah desain produk perusahaan induk.

Di luar Co-Star, Midjourney terus mengejar proyek ambisius. Divisi Midjourney Health yang baru dibentuk sedang mengerjakan pemindai ultrasonik seluruh tubuh – langkah yang menunjukkan perusahaan tidak hanya bergerak di ranah digital, tetapi juga perangkat keras medis. Bagi pengguna Indonesia, belum ada informasi apakah Co-Star akan hadir dalam bahasa Indonesia atau kapan fitur baru hasil kolaborasi ini akan dirilis.

Akuisisi ini menjadi ujian apakah Midjourney mampu menjembatani dua dunia yang tampaknya bertolak belakang: kecanggihan AI generatif dan keintiman personal astrologi. Jika berhasil, ini bisa menjadi cetak biru baru bagi perusahaan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih emosional. Jika gagal, setidaknya akan menjadi studi kasus menarik tentang sejauh mana AI bisa diterima oleh generasi yang paling kritis terhadapnya.

Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks