Jolenan, yang berasal dari frasa "Ojo Kelalen" atau jangan lupa, tahun ini mengusung tema ketahanan pangan. Agus Sudibyo menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Desa Kemetul, kata dia, memiliki basis petani milenial yang cukup besar dan tengah mengembangkan Dem Area (Demonstrasi Area) padi semi organik.
"Alhamdulillah kemarin kami bisa mencapai target panen beras semi organik menuju beras sehat sampai di angka 9 ton untuk per Hektare (Ha)-nya di Dem Area kami," beber Agus di tengah keramaian karnaval.
Riset Padi Semi Organik: Empat Kali Panen, Hasil Terus Naik
Desa Kemetul tidak hanya mengandalkan tradisi. Agus mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan riset khusus untuk mengembangkan padi semi organik. Pendekatan ini dinilai mampu menyehatkan tanah sekaligus meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.
"Dari tahun ke tahun kami selalu ada peningkatan pada hasil panennya, dan ini sudah kami lakukan selama dua tahun artinya sudah empat kali musim panen, dan dari setiap sekali panennya itu ada peningkatan hasilnya," ujarnya.
Anggota DPRD: Jolenan Jadi Panggung Protes Model Rakyat Pedesaan
Karnaval Jolenan tidak melulu soal hasil bumi. Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Muzayinul Arif, yang turut hadir mengapresiasi tema yang berganti setiap tahun. Menurutnya, Jolenan juga menjadi media bagi warga untuk menyuarakan kondisi riil di pedesaan.
"Jolen ini kan bahasa yang artinya Ojo Ngasi Lalen (jangan sampai lupa/kelupaan, red) artinya kita jangan lupa terhadap tanah yang sudah memberikan kehidupan untuk kita, dan masyarakat petani," terang Muzayinul Arif.
Dukungan Penuh untuk Program Ketahanan Pangan Nasional
Agus menegaskan bahwa kegiatan ini sengaja mengusung tema ketahanan pangan untuk mendukung target pemerintah, mulai dari Kabupaten Semarang hingga pusat. Ia menilai bahwa negara yang kuat didasari oleh ketahanan pangan di wilayah masing-masing.
"Di sini warganya rata-rata petani sehingga apapun hasil buminya itu ada di sini," pungkasnya.