Pencarian

500 Jamaah Rela Tembus Hawa Dingin Bediding di Wonogiri Demi Gus Tofa, Pesan soal Tradisi Suran Ini Jadi Renungan

Rabu, 15 Juli 2026 • 12:26:01 WIB
500 Jamaah Rela Tembus Hawa Dingin Bediding di Wonogiri Demi Gus Tofa, Pesan soal Tradisi Suran Ini Jadi Renungan
Ratusan jamaah memadati Mushola Al Ikhlas di Dusun Dung Uwot, Wonogiri, untuk mengikuti pengajian tradisi Suran bersama Gus Tofa.

WONOGIRI — Suhu dingin yang menyelimuti kawasan perbukitan Nguntoronadi pada malam hari tidak menyurutkan langkah warga untuk menghadiri undangan pengajian. Mereka datang dari Dusun Dung Uwot dan wilayah sekitarnya, memenuhi setiap sudut Mushola Al Ikhlas demi mendengarkan tausiyah dari KH Agus Habib Mustofa, atau yang akrab disapa Gus Tofa, pengasuh Pondok Pesantren Anajah Darul Ulum Poncol, Magetan.

Pesan Gus Tofa: Tradisi Suran Bukan Sekadar Ritual

Dalam ceramahnya, Gus Tofa menyampaikan pesan yang langsung menyentuh akar budaya masyarakat Jawa. Menurutnya, tradisi Suran yang telah diwariskan turun-temurun tidak boleh dipandang sebagai sekadar ritual tahunan.

"Mari kita nguri-uri budaya Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk tradisi Suran. Jangan lupa mendoakan para leluhur dan cikal bakal kampung sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka," ujar Gus Tofa di hadapan ratusan jamaah.

Kalimat itu sontak membuat jamaah terdiam. Banyak warga terlihat menganggukkan kepala, menandakan persetujuan terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya lokal dan penguatan nilai-nilai keislaman.

Makna Tradisi Suran: Introspeksi dan Syukur

Tradisi Suran sendiri dikenal sebagai warisan budaya masyarakat Jawa yang sarat dengan makna introspeksi, doa, rasa syukur, serta mempererat hubungan sosial antarwarga. Melalui pengajian ini, masyarakat diajak memahami bahwa budaya lokal dapat berjalan berdampingan dengan nilai agama apabila dilaksanakan secara benar.

Suasana di dalam masjid berlangsung penuh kekhidmatan. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua duduk bersama mengikuti rangkaian acara. Hawa dingin yang menusuk tidak mengurangi antusiasme mereka.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Desa dan Polsek

Kegiatan tersebut juga dihadiri perangkat Desa Ngadipiro serta Kapolsek Nguntoronadi, AKP Tri Agus. Kehadiran unsur pemerintah desa dan kepolisian menunjukkan dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang mampu menciptakan suasana aman, damai, sekaligus mempererat kebersamaan.

Dalam sambutannya, AKP Tri Agus mengapresiasi penyelenggaraan pengajian yang dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Ia menilai kegiatan keagamaan seperti ini bukan hanya menjadi wadah meningkatkan keimanan, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi dan menjaga keharmonisan antarwarga di tengah kehidupan bermasyarakat.

Kapolsek berharap tradisi yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama tersebut dapat terus dilestarikan sehingga mampu menciptakan lingkungan yang rukun, damai, serta kondusif.

Antusiasme Warga Jadi Bukti Tradisi Masih Hidup

Selama kegiatan berlangsung, suasana tetap berjalan tertib, aman, dan penuh kekhidmatan. Ratusan jamaah mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai tanpa mengurangi semangat meski udara malam terasa sangat dingin.

Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan yang dipadukan dengan nilai budaya masih memiliki tempat istimewa di hati warga Wonogiri. Pengajian Suran bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang berkumpul lintas generasi untuk mempererat persaudaraan, memperkuat iman, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bagikan
Sumber: joglosemarnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks