SOLO — PMI Kota Surakarta tidak main-main dalam menyiapkan kader siaga bencananya. Sebanyak 19 unit relawan dari Korps Sukarela (KSR) perguruan tinggi, Forum Remaja PMI (FORPIS), dan anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) se-Surakarta dikumpulkan di Waduk Tirtomarto Delingan, Karanganyar, pada 10–11 Juli 2026.
Kepala Bagian Pelayanan Sosial PMI Kota Surakarta, Wanto, mengatakan pelatihan ini merupakan gerbang bagi relawan untuk masuk ke Satuan Penanggulangan Bencana (SATGANA). “Tujuannya agar peserta memiliki kemampuan dasar dalam operasi penyelamatan sehingga ketika dibutuhkan dalam operasi kemanusiaan, mereka siap diterjunkan ke lapangan,” terangnya.
Apa Saja yang Dipelajari Relawan?
Materi pelatihan terbagi dalam dua sesi besar. Hari pertama, peserta mendapat teori dan pengenalan alat-alat water rescue, teknik dasar penyelamatan, serta prosedur keselamatan. Hari kedua, mereka langsung terjun ke waduk untuk simulasi penyelamatan korban di air.
Pelatih Water Rescue, Ari Kristyono, menjelaskan bahwa keterampilan dasar seperti teknik penggunaan life jacket dan helm rescue, teknik berenang penyelamatan, melempar throw bag, hingga prosedur evakuasi korban wajib dikuasai. “Semakin sering berlatih, kesiapan relawan menghadapi kondisi darurat akan semakin baik sehingga mampu memberikan pertolongan secara cepat, tepat, dan aman kepada masyarakat,” ujar Ari.
Simulasi di Waduk: Belajar dari Kondisi Nyata
Salah satu peserta, Rivaldo, mengaku pelatihan ini memberinya gambaran nyata tentang tantangan di lapangan. “Hari pertama kami mendapatkan materi mengenai alat-alat water rescue. Hari kedua kami langsung mempraktikkannya melalui simulasi di waduk sehingga materi yang dipelajari benar-benar dapat diterapkan,” katanya.
Rivaldo menambahkan, selain teknik penyelamatan, pelatihan ini juga mengajarkan pentingnya komunikasi tim dan keselamatan diri. “Kami belajar bekerja sama dalam tim, tetap tenang saat menghadapi situasi darurat, dan semakin percaya diri sebagai relawan.”
Mengapa Pelatihan Ini Penting?
Wanto menuturkan, kegiatan ini merupakan respons terhadap meningkatnya risiko bencana akibat perubahan cuaca dan faktor alam. Relawan tidak hanya dituntut punya kemampuan teknis, tetapi juga mental dan koordinasi yang baik saat bertugas.
Melalui pelatihan ini, PMI Kota Surakarta menargetkan lahirnya relawan yang lebih profesional dan siap diterjunkan dalam operasi kemanusiaan di wilayah Surakarta dan sekitarnya.