Pencarian

FIFA Kembali Gunakan Aturan Kontroversial, Donald Trump Ikut Campur Tangan soal Kartu Merah Folarin Balogun

Senin, 06 Juli 2026 • 05:22:31 WIB
FIFA Kembali Gunakan Aturan Kontroversial, Donald Trump Ikut Campur Tangan soal Kartu Merah Folarin Balogun
Folarin Balogun dipastikan bermain saat AS melawan Belgia meski sempat kena kartu merah.

JAWA TENGAH — Folarin Balogun dipastikan bisa tampil saat Amerika Serikat menjamu Belgia di Seattle Stadium pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, Kamis (2/7) mendatang. Padahal, penyerang Monaco itu seharusnya menjalani skorsing satu pertandingan otomatis setelah mendapat kartu merah langsung dalam kemenangan AS atas Bosnia dan Herzegovina di fase grup.

Kartu merah Balogun terjadi saat ia menginjak pergelangan kaki Tarik Muharemovic dalam sebuah duel. Berdasarkan aturan standar FIFA, hukuman tersebut otomatis membuatnya absen di laga hidup mati melawan Belgia. Namun, FIFA memilih menerapkan Pasal 27 Kode Disiplin yang memungkinkan hukuman ditangguhkan selama satu tahun dengan masa percobaan.

Presiden Trump Lobi Infantino, Belgia Protes Keras

Keputusan ini mendapat dorongan ekstra dari Presiden AS Donald Trump. Trump dilaporkan menghubungi Gianni Infantino untuk meminta FIFA meninjau ulang kasus Balogun. Keduanya memang memiliki hubungan dekat, terbukti saat Trump menerima FIFA Peace Prize tahun lalu.

"FIFA melakukan hal yang benar dengan membalikkan ketidakadilan besar," tulis Trump di akun Truth Social-nya setelah keputusan diumumkan.

Namun, Federasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) langsung merespons dengan pernyataan keras. Mereka menyebut keputusan FIFA mengejutkan dan bertentangan dengan aturan turnamen itu sendiri. RBFA merujuk pada Pasal 10.5 Regulasi Piala Dunia 2026 yang secara eksplisit menyatakan kartu merah langsung otomatis menghasilkan skorsing untuk laga berikutnya.

Preseden Ronaldo dan Aturan yang Membelah Opini

Ini bukan pertama kalinya FIFA menerapkan Pasal 27. Sebelumnya, aturan yang sama dipakai untuk membatalkan skorsing Cristiano Ronaldo sehingga ia bisa tampil di laga awal grup Portugal. Kasus serupa juga membuka jalan bagi Moises Caicedo (Ekuador) dan Nicolas Otamendi (Argentina) untuk bermain setelah keduanya diusir wasit dalam pertandingan yang sama.

Praktik ini memicu perdebatan sengit. Di satu sisi, FIFA dianggap melindungi kepentingan komersial dengan memastikan bintang-bintang besar tetap tampil. Di sisi lain, keputusan ini dianggap merusak prinsip fair play dan menciptakan ketidakadilan bagi tim lawan.

Ancaman Langkah Hukum dari Belgia

RBFA tidak tinggal diam. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan bahwa aturan skorsing otomatis telah ditegaskan berulang kali, termasuk dalam Circular No. 16 yang dibagikan ke seluruh asosiasi anggota pada 12 Mei 2026.

"Demi melindungi hak sah semua tim peserta dan prinsip dasar fair play, RBFA sedang menyelidiki semua opsi yang tersedia," bunyi pernyataan resmi federasi Belgia.

Keputusan ini jelas menjadi duri bagi Belgia yang harus menghadapi pemain paling tajam AS di turnamen ini. Balogun telah mencetak tiga gol dalam tiga penampilan awal di Piala Dunia 2026. Dengan campur tangan politik dari Gedung Putih dan ancaman protes resmi dari Belgia, FIFA kini berada di pusat badai politik baru yang bisa mengguncang kredibilitas turnamen.

Follow jatengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: fourfourtwo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks