SURAKARTA — Menjelang Ujian Tengah Semester (UTS), suasana kampus mulai berubah. Mahasiswa sibuk membuka catatan, membaca ulang materi perkuliahan, berdiskusi dengan teman, dan bersiap menghadapi soal-soal ujian. Ada yang belajar jauh-jauh hari, ada pula yang baru membuka buku ketika jadwal ujian kian dekat.
Di tengah kesibukan itu, Dr. Laili Etika Rahmawati mengingatkan satu hal yang kerap terlewat: kejujuran. UTS bukan sekadar kegiatan memperoleh angka di lembar hasil studi, melainkan bentuk evaluasi untuk mengukur sejauh mana mahasiswa memahami materi dan mencapai kompetensi yang dipelajari.
Ujian sebagai Ruang Uji Karakter, Bukan Sekadar Angka
Laili menegaskan bahwa ujian juga menjadi ruang untuk menguji karakter. Ketika mahasiswa berada di ruang ujian tanpa pengawasan langsung yang ketat, ada nilai yang sedang dipertaruhkan, yaitu integritas.
Pandangan itu berangkat dari realitas akademik yang masih menyisakan persoalan. Menyontek belum sepenuhnya hilang dari praktik keseharian mahasiswa, meski bentuknya terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Cara Menyontek Kini Makin Beragam, dari Catatan Tersembunyi hingga AI
Berbagai cara dapat dilakukan untuk memperoleh jawaban tanpa melalui usaha sendiri. Mulai dari melirik pekerjaan teman, bertukar jawaban lewat pesan singkat, menyimpan catatan tersembunyi, hingga memanfaatkan perangkat digital.
Yang terbaru, sebagian mahasiswa memakai akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan jawaban yang tidak semestinya digunakan dalam ujian. Teknologi yang seharusnya membantu proses belajar justru disalahgunakan untuk mempermudah kecurangan.
Laili mempertanyakan logika di balik praktik tersebut. Menurutnya, nilai tinggi tidak memiliki arti bila diperoleh tanpa mencerminkan kemampuan diri sendiri.
Mengapa Kejujuran Jadi Fondasi Ilmu yang Berkah
Bagi Laili, kejujuran bukan pelengkap dalam proses belajar, melainkan fondasinya. Ilmu yang diperoleh melalui jalan jujur membawa keberkahan, sementara nilai yang diraih lewat kecurangan hanya menyisakan angka tanpa makna.
Pesan itu relevan bagi mahasiswa yang tengah bersiap menghadapi UTS di kampus masing-masing. Persiapan matang tetap penting, tetapi cara memperoleh hasil tidak boleh dikorbankan demi sekadar lolos ujian.