JAWA TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan di zona hijau pada Rabu (23/9/2026), naik 0,11% atau 7,20 poin ke level 6.284,24. Penguatan tipis ini terjadi di tengah volume transaksi yang mencapai 1,65 miliar saham dengan nilai turnover Rp 607,15 miliar.
Berdasarkan data RTI, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.321,56 pada awal sesi, sementara level terendahnya berada di 6.282,60. Pergerakan indeks dibuka di 6.297,96 sebelum akhirnya bertahan di sekitar 6.284 pada pukul 9.05 WIB.
Frekuensi transaksi tercatat 112.664 kali sepanjang periode pembukaan. Dari sisi pergerakan saham, 275 emiten menguat, 188 emiten melemah, dan 213 emiten stagnan.
Bursa Asia BergeraK Variatif, Hang Seng dan Shanghai Tertekan
Sentimen dari bursa regional tidak sepenuhnya seragam. Hang Seng Index melemah 0,98%, diikuti Shanghai Composite Index yang turun 0,16%. Sementara itu, Nikkei justru menguat 1,38% dan menjadi satu-satunya indeks utama Asia yang mencatatkan kenaikan signifikan.
Perbedaan arah ini mencerminkan aliran modal asing yang masih selektif terhadap pasar Asia. Investor cenderung menempatkan dana di pasar yang dianggap memiliki katalis domestik kuat, sementara pasar dengan eksposur global tinggi masih menahan posisi.
Komposisi Pasar Didominasi Saham Menguat
Dari 676 saham yang diperdagangkan, mayoritas berada di zona positif. Rasio saham naik terhadap saham turun berada di 275 berbanding 188, menunjukkan bias bullish yang masih terjaga meski tipis.
Namun, nilai turnover Rp 607,15 miliar pada awal sesi tergolong moderat. Angka ini mengindikasikan pelaku pasar masih menunggu konfirmasi arah sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Penguatan IHSG pagi ini belum cukup untuk menyimpulkan tren berkelanjutan. Level resistance terdekat berada di kisaran 6.321, yang merupakan titik tertinggi sesi pembukaan. Jika indeks gagal menembus level itu, potensi koreksi teknikal jangka pendek masih terbuka.
Sebaliknya, level support di 6.282 menjadi batas bawah yang perlu dijaga. Penembusan ke bawah area tersebut bisa memicu aksi jual lanjutan, terutama dari investor jangka pendek yang mengejar momentum.
Dari sisi eksternal, pelemahan Hang Seng dan Shanghai menjadi perhatian. Kedua indeks tersebut sering menjadi barometer sentimen terhadap aset berisiko di kawasan, sehingga pergerakannya dapat mempengaruhi arus dana ke pasar domestik pada sesi siang.
Outlook Sesi Berikutnya
Pelaku pasar akan mencermati apakah IHSG mampu mempertahankan level di atas 6.280 hingga penutupan sesi pertama. Volume transaksi yang tipis di awal sesi biasanya belum menggambarkan minat beli sesungguhnya, karena banyak investor institusi baru aktif setelah pukul 10.00 WIB.
Saham-saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi masih menjadi pilihan utama untuk mengukur kekuatan indeks. Tanpa dorongan dari sektor perbankan dan energi, penguatan IHSG berpotensi terbatas pada kisaran sempit sepanjang hari.